Namaku Cecilia Willow.Aku adalah stereotipikal anak bandel.Rokok adalah keseharianku.Kabur dari sekolah sudah terlalu sering kulakukan,sampai bibi-yang mengurusku sejak orangtuaku meninggal-pasrah.Aku sering ke tempat-tempat bar dan sejenisnya,meskipun umurku baru sekitar 13-14 tahun saat itu.Tapi di situ batas kenakalanku.Aku tidak pernah mencoba narkoba.Atau setidaknya,begitulah sampai bertemu dia.
Hari itu,aku pergi ke sebuah diskotik.Diskotik itu memang jadi sarang narkoba.Kurasa setidaknya setengah dari pengunjungnya pecandu narkoba.Aku memesan minuman dan merokok di sana.Saat aku ingin mengambil gelasku,seseorang menabrakku.Aku menatapnya kesal,karena ia hampir menumpahkan minumanku.Ia sebaya denganku,dan punya satu ciri khas:rambutnya berwarna perak.Yah,aku pernah melihat rambut biru,ungu,merah,dan segala macam warna aneh lain,tapi aku tidak pernah melihat yang perak."Ah,maaf! Temanku ini sedang mabuk,"kata temannya."Ya,aku juga bisa lihat kalau dia mabuk,bodoh!"batinku."Mm..Cathy,apa itu tadi? Aku merasa menabrak sesuatu,"kata si rambut perak."Kau terlalu mabuk,Seira! Kau menabrak orang!"kata Cathy,atau setidaknya begitulah yang kudengar.Tapi perhatianku terpaku pada tas si rambut perak-yang dipanggil Seira-yang jatuh.Sebuah jarum suntik dan beberapa pil."Narkoba,"batinku.
"Kau tertarik dengan itu?"tanya orang di sampingku."Ah,namaku Violleta,"katanya sebelum aku sempat menjawab."Yah..kurasa aku tidak membutuhkannya,"jawabku."Namamu siapa?" "Cecilia,"jawabku."Cecilia,kau mengatakan begitu hanya karena kau belum tahu tentang narkoba." Ia memberikanku satu butir pil dan berkata,"Cobalah.Percaya aku,hidupmu bakal jadi lebih nyaman."
Keputusan yang kusesali hingga kini adalah meminum pil itu.Aku jadi pecandu narkoba.Aku melipatgandakan dosisku sampai berpuluh-puluh kali lipat.Perhiasan dan harta berharga peninggalan nenekku kujual habis."Cecilia,apakah kamu melihat cincin nikah Bibi?"tanya bibiku."Nggak lihat,Bi,"jawabku.Padahal cincin itu ada di kantongku."Aduh...baru kemarin anting Bibi hilang.Yasudah,kamu pergi belajar saja.Biar Bibi cari sendiri,"kata Bibi.
Tapi apa daya,akhirnya aku pun tidak sanggup membiayai gaya hidup baruku setelah sebulan."Yah,aku tidak bisa memberikannya tanpa imbalan,"kata Vio saat aku bertanya apakah dia bisa memberikan narkoba itu."Kalau begitu begini saja.Kau jadi anak buahku,"tawar Vio.Dengan cepat,aku menggangukan kepala dan menerimanya.
Setelah itu,aku mengontrol beberapa transaksi narkoba.Aku menjadi tangan kanan Vio.Ia membocorkan beberapa rencananya."Hm..Seira dan Cathy malah membangun bisnis sendiri ya.Bolehlah,"kata Vio."Cecilia,awasi terus mereka.Jangan sampai mereka berbuat aneh-aneh,"perintah Vio."Oke."
Mereka berdua menjalankan bisnisnya secara kompeten,sampai akhirnya,dalam suatu kejadian yang absurd,ditangkap oleh pengedar narkoba lain."Itu pasti Maya,"kata Vio saat aku mengabarkan tentang situasi itu."Tenang saja,itu akan kuurus.Aku punya banyak koneksi di kepolisian.Sekarang aku punya tugas baru,"kata Vio."Tugas baru apa?"tanyaku.Vio menyalakan TV."Seorang anak ditemukan hilang di rumahnya pada hari Kamis malam kemarin.Pada rumahnya terdapat tanda silang berwarna biru,seperti korban-korban penculikan sebelumnya.Dengan demikian,sudah ada 16 kasus penculikan bulan ini.Tersangka diduga merupakan penculik anak 'Putri Biru'.Sampai saat ini,Putri Biru belum bisa ditangkap oleh pihak kepolisian." "Apa-apaan...seorang penculik anak,tanpa alasan mencoret rumah korban dengan cat biru? Apa pentingnya dia?"tanyaku."Dia penting,karena tujuh dari 16 korban adalah pecandu narkoba yang berada di bawah anak buahku,"jawab Vio."Aku tidak peduli siapa Putri Biru ini,tapi lacak dia.Kita tidak tahu dia di pihak siapa,bisa jadi musuh,bisa jadi beroperasi secara individu.Pokoknya,cari dia.Kalau dia menunjukkan perlawanan,bunuh saja."
Jadi,tugasku adalah menemukan seorang penculik anak yang hobinya mengecat rumah.Aku mencari informasi ke mana-mana,bahkan sampai pura-pura bersimpati dengan beberapa korban penculikan.Tapi,toh,aku mendapatkan kurang lebih postur tubuh Putri Biru.Seorang perempuan remaja,sekitar 17 tahun,1 setengah tahun lebih tua dariku.Lumayan tinggi,sekitar 165-166 cm dan ramping dengan rambut biru.Sementara aku bekerja keras,Putri Biru sudah merenggut lebih banyak korban,dan,anehnya,banyak di antara mereka yang merupakan anak buah Vio.Dan,yah,Vio makin kesal.Apalagi,banyak di antara mereka mempunyai posisi yang cukup tinggi.
Tanpa kemajuan sama sekali,aku memutuskan berkonsultasi dengan Remi.Ia adalah salah satu orang kepercayaan Vio."Cecilia.Kenapa kau datang kemari?"tanya Remi."Aku butuh bantuanmu,"jawabku,"Vio menyuruhku mencari Putri Biru." "Putri Biru? Hmmm...Itu tidak akan mudah,"kata Remi."Aku tahu,"ujarku."Yah,aku juga tidak bisa membantu banyak,tapi aku punya beberapa profil foto anak buahnya Fione,"kata Remi."Siapa Fione?"tanyaku."Rivalnya Vio.Dia juga mengontrol perdagangan narkoba skala besar.Dia juga ahli bersembunyi.Wajahnya saja tidak diketahui orang,"jawab Remi."Nih,lihat saja sendiri,"kata Remi sambil memberikan arsip itu kepadaku."Laki-laki yang di ujung itu Vidi.Lalu orang yang di tengah itu Artria.Dua orang yang di belakang itu Agnes dan Caitlyn.Aku belum menemukan nama orang yang di kanan itu,"jelasnya.Orang itu berambut biru,seorang perempuan remaja,cukup tinggi..."Putri Biru,"jeritku pelan."Hah? Itu Putri Biru?"tanya Remi.Belum sempat aku menjawab,Remi jatuh pingsan.Sebuah jarum suntik ditusukkan ke lehernya oleh sesosok musuh.Putri Biru melihatku sinis.
"Minggir!"teriakku sambil menendang tangan kanannya yang sedang memegang leher Remi.Remi terlepas dari genggamannya.Putri Biru melancarkan tendangan kepadaku sambil berusaha membawa Remi.Aku menepisnya dengan mudah.Tinjuku mengenai rahang bawahnya.Ia tumbang ke tanah,kepalanya berdarah setelah mengenai meja.Tapi ia masih mencoba berdiri,meski terhuyung-huyung.Aku mengambil botol kaca dan memukul kepalanya.Ia meringis menahan sakit,sebelum akhirnya tumbang lagi.Saat itu,dua orang yang kukenali sebagai Artria dan Vidi menerobos masuk.Mereka membawa Putri Biru,sambil menggumam,"Si idiot ini pasti habis dihajar Fione nanti." Aku tidak bisa melawan,karena serpihan botol kaca tadi ikut menusuk kakiku sehingga aku sulit berjalan.
"Vio,Remi hampir saja diculik Putri Biru.Bisakah kau ke sini? Kami berdua tidak bisa berjalan,"kataku."Hah? Putri Biru?"tanyanya."Ya,dia mau menculik Remi,tapi aku menghalaunya.Vidi dan Artria menyelamatkannya,"jelasnya."Diam di situ.Aku akan datang dalam lima menit,"kata Vio.Lima menit kemudian,Vio dan beberapa anak buahnya datang menghampiri kami."Bawa mereka berdua,"perintah Vio."Nah,Cecilia,kudengar Putri Biru diselamatkan Vidi dan Artria.Kau yakin dengan itu?"tanya Vio."Aku yakin.Mereka juga mengatakan Fione akan menghajarnya nanti,"jawabku."Fione? Nah,aku paham sekarang.Putri Biru pastilah anak buah Fione,"kata Vio."Fione itu siapa,sih?"tanyaku."Jadi begini.Dulu,ada dua orang kakak beradik yang menjalankan bisnis narkoba.Aku dan Fione adalah anak buah mereka.Tapi,mereka lalu bertengkar karena sesuatu.Lalu,bisnis mereka pun terbagi dan mereka berkonflik satu sama lain.Aku memutuskan mengikuti si bungsu,tapi Fione mengikuti si sulung.Mereka berdua tewas saling tikam,dan kami mewarisi bisnis mereka.Kau tahu sisanya,"jelas Vio,"Dan kalau memang Putri Biru anak buahnya,aku tidak akan heran jika mayatnya ditemukan di tempat sampah besok."
Setelah itu,beberapa waktu kemudian,kondisi jadi agak kacau."Bagaimana dengan Seira?"tanyaku."Seira? Payah.Dia malah kerja di tempat prostitusinya Kana.Dia sudah ku urus.Ah,kelihatannya salah jika kita masih berharap.Aku punya video mesumnya,sih.Kalau dia mau berbuat macam-macam,aku akan pakai itu.Cecilia,urus saja peredaran narkoba kita,"kata Vio."Oke.Memangnya dia bisa berbuat apa,sih?" "Yah,dia bisa saja melaporkan kita pada polisi.Tapi jangan cemas.Aku punya banyak video untuk memerasnya." "Yah,kita punya urusan yang lebih penting daripada mengurus Seira." "Dan satu lagi....Jangan beritahu siapapun terlalu banyak informasi.Nampaknya ada mata-mata di wilayah kita,"kata Vio.Aku terperanjat."Ada apa?" "Belakangan ini,banyak operasi kita terbongkar polisi.Anak buahku juga banyak yang tertangkap.Peter,dia terbunuh saat disergap polisi.Surya,dia tertangkap karena menerima perintah palsu.Fanya,dia selamat tapi terluka parah.Mina,yang bersama Fanya,terbunuh saat diserang orang tidak dikenal.Jadi,hati-hati.Kecuali kalau kau mata-matanya.Jika begitu,akan kupastikan kau jadi mayat.Paham?" "Paham." "Ngomong-ngomong,Fanya baru sembuh,tapi dia tidak bisa kuhubungi.Lokasi terakhirnya di Nagapura.Cari dia dan sekaligus ancam Seira.Dia tidak jauh dari sana."
Aku meninggalkan tempat ini dengan perasaan was-was.Belum sampai dua puluh langkah,kekhawatiranku terwujud.Dalam waktu sepersekian detik,aku merasakan leherku dicekik seseorang.Aku meronta-ronta berusaha membebaskan diri sambil berteriak.Vio mendengarkannya.Hanya melihat Vio dan anak buahnya,si penyerang kabur."Nampaknya mata-matanya bukan kau,ya.Jangan beritahu Remi atau Fanya."
Nagapura.Kana menjalankan bisnisnya di sana."Kenapa pula Fanya ke sana?"batinku.Untuk menghindari kemungkinan aku mati konyol sebelum sampai ke sana,aku memutuskan lewat jalan raya.Sialnya,tepat satu kilometer di depan Nagapura,ada razia polisi.Walaupun melewati jalan pintas yang terpencil memiliki resiko,aku tidak mau masuk penjara karena punya beberapa gram sabu.
"Sedikit lagi sampai,"batinku sambil terus mengayuh sepedaku."Heeatt!" Sebuah tendangan kencang mementalkanku dari sepeda."Sial!"gumamku.Caitlyn menampakkan dirinya.Pisau tajam itu siap menyobek kulitku.Pisau itu bergerak cepat,tapi hanya menebas udara.Aku mengelak dan dengan cepat melancarkan sebuah pukulan ke arah wajah Caitlyn.Dia menahan pukulanku dengan tangan kirinya,sementara tangan kanannya menyandera leherku.Cekikannya kuat.Aku lemas dan kehabisan napas."Dor!!" Bunyi senjata api terdengar dari kejauhan.Peluru itu menembus perut Caitlyn,membuatnya berteriak kesakitan dan melepaskan cekikannya.Aku berlari sekencang mungkin.
Akhirnya aku sampai di Nagapura.Aku duduk sebentar di sebuah kursi.Bekas cekikan itu masih ada."Halo Nona,namaku Aelita.Tertarik untuk menyewaku?"tanya seseorang.Aku mendongak dan melihat seorang remaja perempuan yang seumuran denganku.Ia memiliki kulit coklat muda dan rambut hitam panjang yang diikat.Sesaat,aku terdiam karena kebingungan.Fakta bahwa seorang perempuan remaja menawarkan jasanya padaku sangatlah janggal.Kurasa aku terdiam sekitar 10 detik sampai akhirnya bisa menjawab,"Tidak."
"Kenapa pula aku harus menyewamu?"tanyaku kesal."Karena,tidak seperti yang lainnya,Nona boleh melakukan apapun denganku.Apapun,tanpa batasan dan halangan." Aku menggeleng sambil berkata,"Aku tidak tertarik." "Ayolah Nona,hanya enam ratus ribu rupiah per jam.Lakukan apapun yang Nona inginkan,fantasi apapun yang Nona miliki,dan.." Aku memberikannya uang tiga ratus ribu rupiah dan berkata,"Fantasiku adalah melihatmu lenyap selama setengah jam!" Aelita tersenyum."Baiklah,Nona,"katanya."Dasar idiot,"batinku.Aku beranjak dari kursi itu.Aku menghampiri "kantor pusat"-sebuah bangunan kecil suram yang dihuni salah satu anak buah Vio,yaitu Kana.Kana juga punya anak buah,si kembar Lesley dan Leslie.
"Cecilia.Ada urusan apa kau kemari?"tanya Kana."Di mana Fanya?"tanyaku."Fanya? Terakhir kali kudengar ia sedang menginap di Hotel Majaraya.Itu dua hari yang lalu,sih,"jawabnya."Kalau Seira?" "Sama.Dia bersama Shizuka." Tiba-tiba,Vio menelefon."Ya,Vio,ada apa?" "Cepatlah ke kasino samping Hotel Majaraya.Fanya menghubungiku.Dia disekap di sana!"
Aku langsung berlari secepat mungkin.Hotel Majaraya kini tepat di depanku.Di sampingnya,ada kasino reyot yang sudah tutup.Pintu tua kasino itu kudobrak.Fanya berada di dalamnya.Tangan dan kakinya diikat.Agnes juga berada di sana.Pisau tajam di tangannya siap membabat Fanya."Cukup nekat tindakanmu untuk menghubungi Vio.Tapi...." "Tapi hari ini dia tidak akan mati!"teriakku sambil menendang bagian belakang kepalanya.Sebelum ia sempat membalas,aku merebut pisaunya,dan menancapkannya di lengan kanannya.Lengan kirinya bergerak maju mengincar leherku,persis seperti Caitlyn.Aku menarik pisau lipat dari kantongku dan mencoba menusuk lengan kirinya.Agnes menghindarinya dan justru menjambret pisau lipat itu.Kaki kirinya menendang perutku dan membuatku jatuh.Tepat saat ia ingin menikamku,sebuah peluru menembus lengan kanannya.Peluru yang lain mengenai perutnya dan membuatnya jatuh.Aku mengambil pisau lipat di lantai.Pisau lipat itu kugunakan untuk menebas tali yang mengekang Fanya.Kata Vio,ia bisa gila kalau begini terus.
Beberapa waktu kemudian,Vio memanggilku ke markasnya.Mayat Seira dan seorang lagi yang tak kuketahui tergeletak disana."Natalie membunuh mereka.Dia sendiri juga terbunuh,"kata Vio."Fione ingin bermasalah dengan kita rupanya,"lanjutnya.Tiba-tiba,Fanya mendobrak masuk sambil berkata,"Kita harus lari! Anak buah Fione sedang menyerbu tempat ini!" "Hah?! Kenapa mereka bisa tahu tentang tempat ini?"teriak Vio kaget."Kayaknya beberapa anak buah kita adalah mata-mata.Cepatlah,kita harus kabur!"teriak Fanya.
"Cari Vio! Periksa pintu belakang!"perintah Artria."Punya mata-mata memang memudahkan,ya,"gumamnya.Puluhan orang berbaju hitam mengikutinya.Aku,Vio,dan Fanya lari lewat pintu belakang.Persis saat aku melangkah keluar,Artria menarikku ke dalam."Kejar dia!"teriaknya sambil menunjuk Vio.Aku mencoba melepaskan tangannya,tapi ia menusukkan jarum suntik berisi obat bius.Aku tak tahu apa apa lagi.
Saat aku bangun,tangan dan kakiku sudah terikat.Natalie,pembunuh Seira,menyeringai kepadaku."Bukannya kau sudah mati?"tanyaku kaget."Oh,aku tidak mati semudah itu,"jawabnya.Cambuknya menyobek daging tubuhku.Ia mengayunkan lagi,dan lagi,dan lagi.Ia terus menerus bertanya,"Di mana Vio?!" Aku selalu menjawab,"Aku tidak tahu." Setelah beberapa jam,Natz pergi sambil berkata,"Kau punya waktu semalam untuk memikirkan jawabanmu.Kalau masih keras kepala,kau akan bernasib sama dengan dia." Ia menunjuk orang di sampingku.Aku menoleh melihatnya.
Itu Putri Biru,tak salah lagi.Kondisinya mengenaskan.Pakaiannya terkoyak tergeletak di lantai,digantikan darah yang bergelimang menyelimutinya."Ah..Cecilia..Sudah lama juga,ya,"katanya."Kau...Putri Biru?"tanyaku untuk memastikan."Itu nama aliasku.Nama asliku Rein.Rein Maples,"jawabnya."Apa yang terjadi?"tanyaku."Yah,begitulah.Kau menggagalkan upayaku menculik Remi.Vio jadi tahu identitasku.Fione marah sekali,"jawab Rein."Untuk apa kau menculik Remi dan anak-anak?"tanyaku lagi."Tujuan utama,menghabisi anak buah Vio.Tujuan kedua,menyuplai orang untuk bisnis perbudakan anak milik Fione,"jawabnya."Perbudakan anak?" "Ya,benar.Makanya yang kuculik remaja semua." "Cecilia,kalau kau memang tahu di mana Vio,beritahu saja.Di sini,kita diperlakukan lebih rendah dari hewan.Kau lihat kalung ini? Ini kalung untuk anjing peliharaan.Serendah itulah diri kita di hadapan mereka,"saran Rein."Aku juga tidak tahu...,"kataku lirih."Ah...Entah apa yang akan dikatakan ayahku jika beliau melihatku seperti ini,"katanya."Ayahmu?" "Ya.Ayahku penjual roti.Aku sering bertengkar dengannya sejak aku memakai narkoba.Tak terbayang jika beliau tahu aku seorang penculik anak,"jelas Rein.
Keesokan harinya,Natz masih menanyakan hal yang sama,dan kujawab dengan jawaban yang sama pula."Natz,bagaimana dengan tugasmu?"tanya seseorang yang baru memasuki ruangan."Ah,Fione,dia masih mengaku tidak tahu,"jawab Natz."Biar kuurus dia.Bawa Rein kemari,"kata Fione."Nggak mau! Nggak mau!"berontak Rein."Berisik!"teriak Natz sambil menyeretnya."Masih berani melawan,rupanya,"komentar Fione.Ia menarik tangan kananku,dan menggoresnya.Darah segar mengalir keluar."Kau haus,kan?" Minumlah,"kata Natalie.Rein menggeleng."Eh? Sejak kapan seekor hewan peliharaan tidak mematuhi majikannya? Wah,wah,hewan seperti ini harus didisiplinkan,iya,kan,Natz?" "Aku bukan hewan! Aku manusia!"teriak Rein sambil menangis."Hmph.Dasar.Inkompeten,payah,tidak berguna,gampang sekali ketahuan.Natz,kurasa Vena dengan senang hati mau mengurusnya di tempat itu,bukan? Kita bawa Cecilia juga,"kata Fione."Jangan! Kumohon...Jangan ke sana,"kata Rein memelas.Permohonannya tidak digubris."Kau membuat kami rugi puluhan miliar rupiah.Emas yang kau curi untuk berjudi,masih belum kau bayar semuanya.Kau masih berharap kami mendengarkanmu?"
Ruangan penyiksaan total,begitu Rein menyebutnya."Vena,lihat siapa yang kubawa,"kata Natz."Paling Rein lagi.Aku bosan,"kata Vena."Ya,aku tahu.Makanya Cecilia ikut kubawa."
"Ada boneka baru,ya.Ayo masuk,Natz.Kita lihat siapa yang mengerang lebih keras nanti,"kata Vena."Baiklah,kalian berdua bereskan mereka.Oh,jangan lupa tanyakan apakah Cecilia tahu lokasi Vio,"kata Fione sambil beranjak pergi.Di sana,aku memutuskan untuk diam.Membiarkan rasa sakit itu meresap.Tapi toh,itu ada batasnya.Aku berteriak kencang sekali.Rein nasibnya tidak lebih baik."N..N..Natalie,kumohon,jual saja aku ke perbudakan milik Fione.Aku tidak kuat lagi.Kumohon..." "Apa bedanya? Di sini kau diperbudak,di sana juga.Dan juga,kubilang tidak ada anjing yang berdiri dengan dua kaki.Semuanya memakai empat kaki!" Natz lalu menendang punggung Rein."Bunuh aku.Kumohon.Bukankah Fione punya koneksi ke pasar gelap organ manusia?" "Fione mengatakan dengan sejelas-jelasnya supaya kau tidak dibiarkan mati dengan nyaman,"jawab Vena."Dan jangan khawatir,selama ini kan kita direkam.Banyak orang membayar mahal untuk itu,"kata Natz."Lanjutkan,Natz,"kata Vena.Terbersit sedikit keraguan di matanya."Kalian mengingatkanku pada Seira.Mirip dengan kalian.Cengeng,lemah,dan suka menangis.Ah,kalau saja saat itu aku berhasil."
Rasanya lega sekali saat mereka pergi.Aku bersandar pada dinding,sementara Rein terbaring di dekatku.Kami disiksa hingga titik batas manusia.Titik dimana jika siksaan itu dilanjutkan,kami pasti mati.Ironisnya,itulah yang kami inginkan.Aku dan Rein menggigil kedinginan.Ruangan itu begitu mencekam,dan hawanya begitu dingin.Kami begitu lelah dan kesakitan,dan tubuh kami-yang tidak diselimuti sehelai benang pun-memiliki bekas luka yang tak terhitung banyaknya.Rantai yang mengekang kami masih kukuh.Kami diperlakukan,mengutip Rein,"Lebih rendah dari hewan dan selayaknya mainan yang bisa dibongkar pasang dan dimainkan pemiliknya."
Saat tengah malam,seseorang membuka pintu ruangan yang gelap itu.Ia berjalan perlahan dan memakai jubah,seakan tidak ingin diketahui keberadaannya."Rein,Cecilia,kalian masih bisa bertahan?"tanya orang itu."Artria? Kaukah itu?"tanya Rein lemah.Artria mengganguk.Ia memberikan dua mangkuk mi ayam jamur dan segelas air putih.Kami tidak pernah makan seenak itu sejak dikurung di sini."Polisi akan datang besok pagi.Bertahanlah,"kata Artria.Ia pun pergi sambil membawa mangkuk dan gelas kosong."Jadi dia mata-matanya,"kata Rein."Mata-mata apa?"tanyaku."Fione sudah lama mencurigai ada mata-mata polisi di sini,"jawab Rein."Akhirnya kita bisa keluar dari tempat terkutuk ini,"kataku.Wajah Rein langsung agak muram."Ya,benar...Hanya saja,aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa pada ayahku." Aku menoleh dan melihat Rein."Cecilia,sebenarnya obsesiku yang pertama bukanlah narkoba,tapi judi.Seperti kata Fione,itulah alasan aku mau melakukan pekerjaan kotor itu.Aku ingat dulu aku menghabiskan uang tabunganku.Setelah itu,aku mencuri uang ayahku.Toko roti ayahku nyaris bangkrut gara-gara itu.Lalu,Agnes menawariku pinjaman.Aku tidak bisa membayarnya kembali,jadi Natz membawaku ke ruangan bawah tanahnya,tempat Fione menyimpan budak untuk diperjualbelikan.Natz memaksaku membayar atau dia akan menjualku di pasar budak.Aku bilang bahwa aku akan membayarnya nanti.Tapi saat itu juga,aku melihat emas batangan yang jumlahnya banyak sekali.Aku mencurinya saat Natz lengah.Tapi Agnes dan Caitlyn melacakku.Lalu,Natalie sendiri yang melatihku..."
Pagi-pagi sekali,dentuman senapan dan pistol mulai terdengar.Tak sampai satu jam setelahnya,aku melihat Fione,Vena,dan anak buah lainnya."Cih,pengkhianat kau,Artria!"teriak Fione."Memang,"kata Artria.Natz dan Vena menatapnya marah.Natz bahkan meronta-ronta."Kau lupa,kita saudara?!"teriak Vena."Aku ingat persis,Vena.Aku hanya tidak ingin kita melanjutkan ini.Terlalu kotor." "Oh,ya? Bukan karena pacarmu,Vidi,dibunuh?"Tepat saat Natz mengumpat kepada seorang polisi,pintu kayu di depan-yang cukup rusak karena didobrak tadi-rubuh didobrak lagi.Vio melemparkan sebuah granat asap."Bagus,Remi.Fanya,habisi Natz dan Vena.Aku akan cari Fione,"perintah Vio.Asap itu cepat lenyap,dan saat lenyap,Remi menodong Vio dan Fanya.Ia juga ditodong seorang polisi,dan Vio menodong Fione."Fione,apa-apaan ini?"tanya Remi."Pengkhianat ini,"jawab Fione sambil menoleh ke arah Artria,"Membocorkan lokasi kita." "Remi! Jadi kau mata-matanya!"jerit Fanya."Masalah siapa mengkhianati siapa,dan siapa memata-matai siapa,itu urusan nanti.Sekarang,bawa mereka semua ke kantor." Rein dan aku dilarikan ke rumah sakit.
Kami dirawat intensif.Dr.Reyfandi-dokter ternama tamatan S3 di Jerman pemilik RS ini-sendiri yang mengobati kami,karena kondisi kami yang kritis.Segera saja,kami dilanda diare hebat("Menjilati makanan dari lantai yang kotor adalah hal paling bodoh yang pernah kudengar.") dan mual.Kami juga diberi perawatan psikologis untuk mengatasi trauma.Kondisi Rein agak lebih parah dariku."Kalian diapakan saja sampai begini?"tanya Dr.Reyfandi."Dokter,kamibahkan tidak dianggap manusia di sana." "Kondisi kalian kacau balau.Aku tidak paham kenapa tulang panggul kalian bisa rusak.Bukan sekedar patah,tapi remuk.Jujur,aku belum pernah melihat kasus separah ini sebelumnya.Kalian bakal dirawat lama.
Rein putus asa dan cemas.Ayahnya tak kunjung datang."Ya,benar.Tentu saja tidak ada yang mau mengakui b******n sepertiku,"gumamnya."Hei,jangan terlalu pesimis begitu.Mungkin ayahmu hanya tidak tahu RS yang kita tempati,"hiburku."Tapi bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau aku ditelantarkan? Bagaimana kalau.." Perkataan Rein terputus suara pintu terbuka,menampilkan sosok seorang laki-laki berwajah kebapakan."Ayah!!" "Rein!! Astaga Nak,sudah lama ayah mencarimu,"kata pria itu."Ayah..Maafkan aku,Yah!"kata Rein sambil memeluk ayahnya.Keduanya menangis."Tidak apa-apa,Nak! Bagaimana pun kamu tetap anak ayah!" "Astaga,Nak,apa yang mereka perbuat kepadamu?"tanya ayah Rein."Ini hukuman yang sepadan untuk dosa-dosaku,Yah!"jawab Rein."Jangan bilang begitu,Nak! Ya ampun,seluruh tubuhmu sampai diperban begini."
Ia menoleh kepadaku.Rasa-rasanya aku kenal."Paman Kumar?!" "Cecilia?!" Ya,ayah Rein ternyata pamanku.Paman jauh,sih.Kami pernah bertemu beberapa kali."Ayah kenal Cecilia?"tanya Rein yang sudah berhenti menangis."Kenal,Nak.Ia keponakan Ayah,"jawab Paman Kumar."Paman,bagaimana kabar Bibi Evelyn?"tanyaku."Bibi Evelyn.....Sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan,"jawab Paman Kumar dengan nada sedih.
Kini giliranku menangis.Bibi Evelyn yang mengasuhku dengan sabar,telah pergi.Rein menepuk pundakku,berusaha menenangkanku.Sekitar sepuluh menit kemudian,aku akhirnya tenang."Oke,Cecilia.Paman rasa sebaiknya kamu tinggal di rumah Paman saja." Aku mengganguk dan berkata,"Terima kasih Paman." "Tunggu dulu.Kita tidak bisa ke rumah itu dengan begitu saja,"sela Rein."Maksudnya?" "Ya,kita kan harus dipenjara dulu." Ya.Meskipun Rein dan aku disiksa oleh Fione dan kroni-kroninya,itu tetap tidak menutup kenyataan bahwa aku terlibat dalam perdagangan narkoba dan Rein dalam penculikan anak.
Kami memberikan segala detail informasi yang kami miliki.Itu pasti bisa mengurangi masa hukuman kami,karena Fione dan Vio masih keras kepala.Akhirnya,pada hari sidang yang mendebarkan itu,hukuman kami dibacakan.Kami harus menunggu lama untuk itu,karena Fione dan Remi dua kali mengamuk di ruang sidang,dan Vio menolak berbicara sepatah kata pun."Violleta Jeanette,58 tahun.Fione Flanelle,65 tahun.Remi Royal,52 tahun.Vena Nalis,60 tahun.Artria Nalis,bekerja sama dengan pihak kepolisian,16 tahun.Fanya Querille,40 tahun.Natalie Velvet,60 tahun.Cecilia Willow dan Rein Maples,kooperatif dan memberikan bukti,19 tahun." "Hah?! Kenapa hukumanku paling besar?!"tanya Fione dengan marah."Tuduhan Anda sangat serius.Perdagangan narkoba,penyelundupan,penyuapan,lalu penculikan,penyiksaan,dan pelecehan seksual ekstrem terhadap Rein Maples,Cecilia Willow,dan korban-korban lainnya,serta juga perbudakan anak." Selain itu,Natalie juga dikirim ke RS Jiwa.
Tangan kami masih terbelenggu,dan kaki kami masih tertahan,tapi setidaknya kami sekarang ditutupi pakaian yang layak.Setidaknya kami bisa makan selayaknya manusia biasa,bukan menjilati makanan dari lantai.Setidaknya kami tidak lagi berada di ruangan gila dengan psikopat gila dan metode gilanya.Paman Kumar mengunjungi kami tiga minggu sekali-itu kuota maksimal-dan itu membuat kami senang.Rein punya semangat hidup lagi.Ia tidak lagi mengata-ngatai dirinya sendiri."Kau tahu,Cecilia,aku beruntung bertemu denganmu,"kata Rein saat kami di luar sel.Kami berada di lapangan penjara.
Seorang wanita,berumur 40-an,yang nampaknya seorang pengunjung yang sedang didampingi seorang petugas,menghampiri kami.Ia bertanya,"Kamu Putri Biru?" "Uh...Ya,"jawab Rein.Tanpa kusangka,ia menampar Rein."Anakku! Luna! Kau kemanakan dia?! Sungguh keji! Ia hanya tercemar pergaulan bebas,dan kau menculiknya!" Rein langsung menunduk,tak kuasa berbicara bahkan untuk sekedar meminta maaf.Wanita itu histeris.Rein makin gelisah,tangannya gemetar tak karuan.Rein sangat sensitif jika menyinggung penculikan anak.Wanita itu akhirnya mau pergi setelah diyakinkan oleh petugas yang mendampinginya."Rein,kau tidak apa-apa?"tanyaku."Ya.Tidak apa-apa.Anak bernama Luna itu.....Salah satu korban pertamaku."
Rein butuh sepuluh menit untuk menenangkan diri."Kenapa,sih? Kok ada suara ribut-ribut di sini?"tanya seseorang."Fanya?! Bukankah kau seharusnya di penjara lain?" "Yah,polisi butuh bantuanku untuk melacak beberapa gudang yang tersisa.Aku tak tahan dengan penjara Nijaya,jadi aku minta pengurangan masa hukuman dan dipindahkan ke sini.Baru tadi pagi aku pindah,"jawab Fanya."Ruangan selmu nomor berapa?"tanyaku."88.Ada dua orang lain di sana,melihat dari jumlah tempat tidurnya." "Dua orang itu kita,"kata Rein."Sudah saatnya kalian kembali ke sel.Waktu jalan-jalan sudah habis!"
"Yah,kita akan menjalani waktu di penjara bersama.Penguranganmu berapa tahun,Fanya?"tanya Rein."Lima belas tahun.Waktuku di sini jadi 25 tahun." "Omong-omong,kau mengurus apa,sih? Hukuman awalmu juga cuma 40 tahun,kan?"tanyaku."Penyelundupan barang mewah.Makanya aku tidak begitu parah hukumannya." "Oh.."
Malam pun tiba.Rein,Fanya,dan aku belum tidur.Kami masih berbincang."Hei,pelankan suaranya!"kata seorang penghuni sel di sel seberang kami."Lesley?! Kok kau bisa di sini?" "Cecilia? Fanya? Kalian sendiri kenapa bisa di sini?" "Anak buah kalian,ya?"tanya Rein.Fanya dan aku mengganguk."Semuanya sudah selesai,Lesley.Vio dan Fione sudah dipenjara,dan semua jaringan kita sudah dilenyapkan." "Bagaimana dengan Leslie? Apakah kalian mendengar kabar tentang Leslie?"tanya Lesley."Leslie? Kakak laki-laki mu? Tidak." Lesley langsung gelisah."Kenapa dengan dia?"tanya Fanya."Ini semua gara-gara Seira.Saat dia dan Cathy menjarah gudang besar yang diincar Michelle yang merupakan anggota komplotan Fione,mereka menemukan stok narkoba yang banyak di bawah tanah.Mereka mengambil semuanya.Gudang itu aslinya milik Vio.Makanya ia melacak Seira.Karena ternyata dia kerja di tempatnya Kana,Vio mengirimkan Freya untuk membawa Seira.Tapi akhirnya gagal,karena Leslie dan aku memberi tahu polisi.Kami muak jadi pengatur di sana.Kana lalu menculik Leslie dan memaksaku membayar sejumlah narkoba di gudang itu.Aku tak punya uang sebanyak itu,jadi Kana menyuruhku untuk menjual diri.Lalu dua minggu kemudian,aku tertangkap di hotel dan dibawa ke sini,"jelas Lesley.Mendadak,Lesley tertidur."Gas tidur!"teriak Fanya.Kami bertiga segera menutup hidung.
"Sialan,dia tidak ada di sini!" Suara itu kukenal baik.Natz.Di belakang ada beberapa orang lain.Ia menoleh kepada kami,dengan sedikit rasa ragu,dan berkata,"Bawa mereka!" "Cih,tidak akan!"teriak Rein.Natz menyemprotkan gas tidur tepat di wajah kami."Habislah,"gumam Fanya.
Saat bangun,kami melihat pemandangan yang umum bagiku.Aku bersusah payah melihat siapa yang jadi korban."Di mana adikku,Natasha? Jawab,j****g!"teriak Natz.Ayunan cambuk yang menjadi mainannya,kini terlihat lebih ganas.Darah membanjiri lantai.Rantai mengekang kaki dan tangan korban itu.Begitu aku melihat rambut hijau zamrud yang diikat itu,aku tahu persis siapa itu."Remi!" "Oh,sudah bangun,ya.Ayo ikut aku.Kalian pasti bingung.Kita bicarakan di ruang makan saja,"kata Natz.Fanya dan Rein terlihat enggan,tapi aku langsung bangkit berdiri."Cecilia,kau yakin?"tanya Rein."Percaya dengan firasatku." "Kuharap firasatmu tidak mengantarkan kita ke kuburan."
Natz mengeluarkan sebuah kue coklat besar."Baik,kalian pasti punya banyak pertanyaan.Silakan tanya,"ucap Natz."Apa maksudmu dengan Natasha?"tanyaku."Dia adikku yang paling ku sayang.Aku bukan sosiopat,apalagi psikopat.Orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil,bukan ditusuk atau apalah yang diceritakan Remi.Aku hanya orang biasa yang ingin hidup normal.Tapi kakaknya Remi,yang aku tidak ketahui namanya,menculik adikku Natasha.Ia dan adiknya,Remi,memaksaku hidup dalam identitas ganda.Saat ia tewas ditikam,Remi mengambil alih.Seorang b******n digantikan b******n lainnya,"jawab Natz.Ia lalu memotong kue coklat itu dan memberikan kami masing-masing sepotong."Tunggu dulu...Kenapa aku disuruh menculik Remi kalau dia sepihak dengan Fione?"tanya Rein."Fione hanya boneka.Dalang sebenarnya adalah Remi.Vio agak naif,jadi Remi kira ia bisa membuktikan loyalitasnya jika kau menculiknya.Rencananya Remi akan memberitahumu,Rein,bahwa dia sepihak dengan Fione.Tapi,Cecilia mengagalkannya,sekaligus juga membuat Vio tahu Fione sedang memburu anak buahnya,"jawab Natz."Lalu Remi menyuruhmu menculikku dan Cecilia." Natalie terdiam sesaat sebelum berkata,"Benar." Ia mendadak gemetar,dan mulai terbata-bata.Ia mengeluarkan beberapa pil dari botol berisi pil penenang,dan menelannya."Aku bisa gila.Bertahun-tahun,aku dipaksa memakai identitas palsu sebagai seorang pembunuh berdarah dingin.Remi ingin menjadikanku senjata.Dampaknya mengerikan.Aku sulit tidur,kadang tiba-tiba gemetar,dan lain-lain." "Orang-orang tadi anak buahmu?"tanya Fanya."Bisa dibilang begitu.Mereka punya keluarga dan anak yang juga ditawan Remi.Kami merasa senasib,jadi kami bekerja sama." "Kenapa kau tidak lapor polisi saja?"tanya Rein."Percuma.Ia punya banyak koneksi yang menempati posisi tinggi di pemerintahan.Banyak di antara mereka dibayar dengan uang,ada juga yang anaknya ditawan di di sini dan sebagainya.Aku juga khawatir pada adikku.Remi sama sekali tidak memedulikan nyawa.Baginya,menjual manusia ke pasar gelap sebagai budak itu hal biasa.Ia sangat haus kekuasaan.Akibatnya,anak buahnya hampir tidak ada yang setia padanya,kecuali mungkin Agnes dan Caitlyn." "Apakah kau tahu siapa yang menembaki Agnes dan Caitlyn?"tanyaku."Aku yang melakukannya.Saat itu,basis oposisi terhadap Fione adalah Vio dan anak buahnya.Kepolisian sedang sibuk karena ulah Remi yang memanipulasi para begal,penjambret,dan lain-lain.Kasus jambret tiba-tiba meningkat tiga kali lipat.Masyarakat jadi takut,apalagi saat itu kan Rein sedang meneror anak-anak.Itu semua memberikan Remi kesempatan emas untuk menjalankan bisnisnya,"jawab Natz."Jadi kau ingin mempertahankan Vio supaya ada harapan Remi tumbang dan kau bisa membebaskan adikmu." "Ya.Sebaliknya,Remi ingin melenyapkan Vio.Maka dari itu,Fanya yang masih belum sepenuhnya pulih dijadikan target.Telepon yang diterima Vio bukan dari Fanya,tapi dari Remi yang memakai ponsel Fanya dan mengubah suaranya.Vio yang naif dengan bodohnya mengirimmu untuk membebaskan Fanya.Setelah Caitlyn gagal,Agnes memancing Aelita untuk merayumu untuk menahanmu sementara.Sisanya kau tahu sendiri."
Natz kembali ke ruang penyiksaan."Remi,kau belum mau menyerah juga?" "Heh...Tak semudah itu,Natalie." "Apa yang kau tunggu? Tak ada gunanya mengulur waktu." Brak!! Kurasakan lantai di bawahku berguncang."Sebuah pintu terbuka dari bawah."Bagaimana kalau ku katakan,adikmu ada di ruang bawah tanah rumah reyotmu ini,dan ada bom waktu yang akan meledak dalam 24 jam?"tanya Remi sambil tertawa.
Cathy memasuki ruangan ini dari pintu tadi."Misi selesai,Remi." Natz langsung naik darah."Sekarang,bersenang-senang lah dengannya!" Ia berlari ke ruangan bawah tanah,diikuti oleh Rein,Fanya,dan aku."Natasha!!" "Kak Natalie!!" Para sanak saudara para tawanan tersebut bertemu lagi dengan keluarga mereka."Baik.Sekarang di mana bomnya?" Mungkin ada sekitar 30-40 orang di sana."Pada jam tangan ini,"jawab Jon,salah satu tawanan."Bagaimana menurutmu,Don?" Don adalah seorang penjinak sekaligus perakit bom.Jon,saudara kembarnya,diculik agar ia mau membuat bom untuk Remi."Pengamanannya sedang.Bisa dimatikan dengan password enam digit.Nampaknya semua passwordnya sama." "Apakah kau bisa mematikannya?" "Kalau kita punya teknologi yang mumpuni,bisa.Masalahnya,aku tidak yakin bisa dimatikan dengan waktu terbatas seperti ini,"jawab Don."Lakukan yang bisa kau lakukan.Aku akan kembali ke Remi."
Amarah Natz berlipatganda."Berikan sandinya!"teriak Natz.Tujuh belas jam berturut-turut diisi dengan adegan-adegan yang belum pernah kami lihat sebelumnya.Remi-meskipun masih terlihat kukuh-mulai melemah.Teriakannya makin pilu dan kencang.Tapi waktu yang tersisa hanya tujuh jam.Ekspresi Natz makin lama makin panik.Saat itulah,ia mendapat ide cemerlang."Bawa Cathy ke sini,"perintah Natz.
Cathy sudah diikat tangan dan kakinya."Tidak ada gunanya menyembunyikan kata sandi itu,Cathy,"kata Natz."Aku paham kenapa kau mengikuti Remi,"lanjutnya,"Dia memberikanmu uang dan kekuasaan." "Benar." "Jika begitu,aku yakin kau tahu bagaimana caranya mendapatkan harta kekayaan itu.Perdagangan narkoba yang masif,perbudakan dan jual-beli budak untuk dipekerjakan,kontrol atas pusat-pusat kebejatan moral,penyekapan dan penyuapan,dan bahkan,"Natz berhenti sejenak,"Dia memanipulasi orang lain untuk dijadikan tameng.Kau tahu semua kebusukannya.Salah sedikit,kau akan berakhir di pasar budak." Cathy terdiam.Dirinya bimbang ingin memihak siapa."Yah,berikan sandinya.Kalau tidak,silakan bergabung dengan Remi di sana,"ancam Natz."Baiklah.Dengar baik-baik.Sandinya 581130.Tapi...." "Tapi apa?" "Kata sandi untuk bom Natasha,adikmu,ditentukan sendiri oleh Remi.Aku tidak tahu apa-apa soal itu."
"Don,segera beritahu mereka tentang sandinya."perintah Natz.Don mengganguk."Aku akan memberikan sandinya,"ujar Remi.Natz menatapnya curiga."Tapi dengan satu syarat,"lanjutnya,"Bebaskan aku dan bawa aku ke rumahku." "Heh...Lalu di sana aku akan dibunuh.Benar,kan?!"gelegar Natz."Caitlyn dan Agnes sudah tidak ada di situ lagi,Remi.Mereka di sini."
Natz membawa Caitlyn dan Agnes masuk."Cih...Bagaimana mungkin?" "Oh,aku cuma menyergap segerombolan preman yang merupakan anak buahmu.Mereka kurang bisa menjaga rahasia,"kata Natz."Kau sudah kehabisan kartu.Menyerah saja lah!"teriak Natz."Persetan! Toh satu bom itu cukup untuk melenyapkan kita semua! Lebih baik mati daripada dipenjara!"
Natalie menyiksanya,lagi dan lagi."Jangan,Kak!Berhenti!"jerit Natasha."Natasha,jangan kesini!"balas Natz."Kalau Kakak terus begitu,Kakak tidak berbeda dengan dia!"
Natz jatuh ke tanah.Air matanya mengalir deras.Ia memeluk adiknya sambil berulang kali mengucapkan,"Maaf,Natasha." "Kak.....Pergilah,Kak.Waktu kita tinggal 5 menit,"kata Natasha."Tidak! Kakak akan selalu menyertaimu selamanya.Cecilia,Rein,Fanya,bawalah semua orang di sini keluar.Cepatlah!"
"Semuanya,keluar dari sini! Cepat!" Segera saja,semua orang berlari berhamburan keluar.Aku membopong seorang lansia.Rein dan Fanya mengatur anak-anak.Saat akan keluar,aku masih melihat Natalie memeluk Natasha.Keduanya menangis."Natalie!"teriakku."Pergilah!"
Kami menunggu ledakan yang akan muncul.Setengah menit berlalu."Lho,mana ledakannya?"tanya Fanya."Aku akan periksa ke dalam,"kataku.Natalie di dalam sama bingungnya."T..Tidak meledak?" "Itu karena kami,"kata Artria.Di belakangnya ada sejumlah petugas polisi.Kami diborgol lagi.Natz menyodorkan tangannya secara sukarela,sampai-sampai kami dibuat bingung olehnya.Cathy,Caitlyn,dan Agnes juga dibawa.
Tapi Remi menolak.Ia memukulkan buku-buku jarinya-yang sebenarnya sudah berdarah-darah-ke meja."Tidak! Tidak seharusnya jadi begini!"teriaknya."Kami sudah menemukan semua asetmu,Remi.Narkoba,budak,emas,apapun itu,kami sudah menemukannya,"ujar Artria."Pengkhianat semua! Sampah gagal!"kecamnya."Kau,Artria,aku sudah tahu semuanya bakal kacau saat kau bilang suka pada Vidi.Agnes dan Caitlyn,menghabisi Fanya dan Cecilia saja tidak becus! Rein,kau yang membuat Vio sadar aku ingin menghabisi anak buahnya.Sudah begitu maling pula! Cathy,kau yang memberikan kode bom itu.Terakhir,kau,Natalie,kaulah aktor terbesar di balik semua ini.Semuanya tidak akan berakhir begini jika kalian semua becus kerjanya dan tidak jadi pengkhianat!"
Semuanya jijik mendengar erangan Remi."Yah,kurasa setidaknya kau akan mendekam di penjara lebih lama dariku,"balas Artria."Kalau kau kira urusan bunuh-membunuh gampang,bunuh saja sendiri!"ujar Caitlyn dan Agnes bersamaan."Aku tidak pernah setia padamu.Aku hanya tidak mau dikirim ke pasar budak,"kata Rein."Aku sih ogah disiksa sepertimu.Toh aku cuma mengikutimu supaya aman dari Vio,"lanjut Cathy."Kau kira aku akan diam saja mengetahui adikku ditawan di sini?"bentak Natalie.Remi menunduk,wajahnya muram."Jadi...Tidak ada yang benar-benar setia padaku?"tanya Remi lirih."Setia pada uang dan kekuasaanmu,lebih tepatnya.Kuakui,Agnes dan aku membuat kesalahan terbesar dengan itu."
Kami lalu dimintai keterangan.Setelah beberapa jam ditanyai macam-macam,akhirnya kami bisa tenang duduk di sebuah bangku panjang di ruang tunggu.Saat Rein mulai mengeluh bosan,seseorang sedang berusaha didudukan ke bangku panjang itu.
"Nggak Pak! Saya tak tahu menahu tentang rencananya si Remi atau siapalah itu!"seru orang itu."Siapa dia?"tanya Rein saat melihatku tampak mengenali orang itu."Aelita,"jawabku,"Dia kerja di tempatnya Kana." Akhirnya Aelita mau duduk setelah dipaksa."Ah,Cecilia,kita bertemu lagi,"katanya."Ya,begitulah.Kenapa bisa kau di sini?"tanyaku."Yah,waktu aku mendekatimu dulu itu karena..." "Aku sudah tahu bagian itu." "Yah,mereka mengira aku punya bagian dalam kasus penculikan seseorang bernama Fanya." "Itu aku,"kata Fanya.Aelita mengganguk."Aku tidak percaya...Kau benar-benar mencari uang dengan cara begitu?"tanya Rein setelah aku menjelaskan kepadanya tentang Aelita."Itu tidak begitu aneh,sih.Seira juga begitu setelah bangkrut,"kataku."Seira,si Perak Serba Guna?"tanya Aelita."Si Perak Serba Guna? Itu julukannya?" "Ya,aku kenal dia.Kadang ada pelanggan yang menyewa kami berdua sekaligus,tapi hanya pelanggan kaya." "Aneh sekali julukannya,"komentar Fanya."Tidak begitu aneh.Semua pelanggan punya nama julukan untuk kita supaya mereka bisa membicarakan kami tanpa menyebut nama.Contohnya,julukanku Coklat Belgia." "Rein dan Fanya tertawa kencang sekali,sampai-sampai dimarahi petugas."Aku juga tidak sudi kerja begini kalau bukan karena terpaksa,"kata Aelita sebal."Terpaksa karena apa?"tanya Rein yang masih juga tertawa."Kerusakan hati." Rein langsung terdiam.
"Hah...Aku ini berasal dari keluarga kaya.Orangtuaku memanjakanku,karena aku anak tunggal.Orangtuaku sama sekali tidak peduli padaku.Tapi mereka selalu memberiku uang.Lalu,aku mulai kenal alkohol di mall.Mulanya masih alkohol ringan,hanya beberapa persen saja.Lalu aku bertemu Cathy.Dia mengenalkanku pada alkohol keras.Aku jadi ketagihan,sampai dokter keluargaku mendiagnosisku dengan kerusakan hati karena alkohol.Orangtuaku mengusirku gara-gara itu.Lalu,ada beberapa laki-laki yang...yah,kau tahulah....pokoknya begitulah."
Akhirnya,hukumanku dan Rein dikurangi satu tahun,hukuman Natalie dijadikan 40 tahun ditambah penyembuhan mental,Hukuman Remi dinaikkan dua kali lipat,dipindahkan ke penjara Nijaya yang mengerikan dan diberikan sel paling kecil di sana(Kabarnya dia dihajar di sana setelah memukul seorang tahanan).Natalie ditempatkan di sel kami.Mayat Seira dan Freya-yang dicuri Vio-dikembalikan untuk dikuburkan secara layak.
"Natz! Kau di sini?"seruku saat melihat Natalie di selku.Natz tersenyum dan menjawab,"Ya.Senang rasanya." Ia duduk di kasur."Kudengar Seira dan Freya sudah dikuburkan,ya?"tanyanya.Rein dan Fanya mengganguk serempak."Bagaimana terapimu?"tanyaku."Lumayan.Insomnia dan mimpi burukku sudah hilang." "Mimpi buruk?"tanya Rein."Ya...Aku sering mengalaminya.Mimpi yang sama pula!" "Mimpi apa?" "Dalam mimpi itu,aku diikat di rumahku,lalu ada Rein,Cecilia,Seira dan Freya di situ.Lalu....Mereka menyiksaku,persis seperti aku menyiksa mereka.Akhirnya aku sulit tidur,kadang hanya tidur dua kali seminggu."
Setelah semua kegilaan ini,Paman Kumar mengadopsiku.Natalie akhirnya sembuh sepenuhnya.Aelita diberikan bimbingan dari polisi.Orangtuanya kembali mengakuinya sebagai anak("Maaf,Nak,Ayah khilaf!").Kami semua direhabilitasi.Kami dibebaskan lebih cepat karena berkelakuan baik,kecuali Remi yang kudengar dihajar lagi karena mencuri barang milik seorang tahanan.Vio dan Fione juga belum keluar,karena masa tahanan mereka lebih lama.
Rein dan aku meneruskan usaha toko roti Ayah yang berkembang pesat.Natalie menjadi psikolog ternama,sementara Coklat Belgia-maksudku Aelita-menjadi motivator(Tapi Fanya masih sering membuatnya kesal dengan memanggilnya Coklat Belgia).Artria mengejar karir di kepolisian.Fanya menjadi pemilik butik pakaian.Agnes dan Caitlyn membuka toko serbaada yang disukai masyarakat karena harganya murah.Cathy menjadi desainer busana pesta.Si kembar Leslie dan Lesley menjadi manajer proyek."Oi,Putri Biru,"sahutku,"Nih,roti abonnya." Rein tersenyum dan menjawab,"Putri Biru? Siapa tuh?" Aku tertawa mendengar jawabannya.
Usaha kami semua makin sukses.Rein dan aku membuka banyak cabang toko roti,bahkan sampai ke luar negeri.Kami sudah tidak memedulikan masa lalu kami yang kelam.Hanya saja,kami berdua masih punya masing-masing satu pengingat:Rein punya luka sayat di bawah leher,sementara punyaku di perut.Luka-luka itu menjadi pengingat bahwa kami,dulunya,adalah remaja kriminal kurang ajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar