Jumat, 24 Mei 2019

Konspirasi

"Baiklah kalau memang ini bisa membantuku." Penyesalan itu terjadi bertahun-tahun kemudian.

Namaku Cecilia Willow.Aku adalah stereotipikal anak bandel.Rokok adalah keseharianku.Kabur dari sekolah sudah terlalu sering kulakukan,sampai bibi-yang mengurusku sejak orangtuaku meninggal-pasrah.Aku sering ke tempat-tempat bar dan sejenisnya,meskipun umurku baru sekitar 13-14 tahun saat itu.Tapi di situ batas kenakalanku.Aku tidak pernah mencoba narkoba.Atau setidaknya,begitulah sampai bertemu dia.

Hari itu,aku pergi ke sebuah diskotik.Diskotik itu memang jadi sarang narkoba.Kurasa setidaknya setengah dari pengunjungnya pecandu narkoba.Aku memesan minuman dan merokok di sana.Saat aku ingin mengambil gelasku,seseorang menabrakku.Aku menatapnya kesal,karena ia hampir menumpahkan minumanku.Ia sebaya denganku,dan punya satu ciri khas:rambutnya berwarna perak.Yah,aku pernah melihat rambut biru,ungu,merah,dan segala macam warna aneh lain,tapi aku tidak pernah melihat yang perak."Ah,maaf! Temanku ini sedang mabuk,"kata temannya."Ya,aku juga bisa lihat kalau dia mabuk,bodoh!"batinku."Mm..Cathy,apa itu tadi? Aku merasa menabrak sesuatu,"kata si rambut perak."Kau terlalu mabuk,Seira! Kau menabrak orang!"kata Cathy,atau setidaknya begitulah yang kudengar.Tapi perhatianku terpaku pada tas si rambut perak-yang dipanggil Seira-yang jatuh.Sebuah jarum suntik dan beberapa pil."Narkoba,"batinku.

"Kau tertarik dengan itu?"tanya orang di sampingku."Ah,namaku Violleta,"katanya sebelum aku sempat menjawab."Yah..kurasa aku tidak membutuhkannya,"jawabku."Namamu siapa?" "Cecilia,"jawabku."Cecilia,kau mengatakan begitu hanya karena kau belum tahu tentang narkoba." Ia memberikanku satu butir pil dan berkata,"Cobalah.Percaya aku,hidupmu bakal jadi lebih nyaman." 

Keputusan yang kusesali hingga kini adalah meminum pil itu.Aku jadi pecandu narkoba.Aku melipatgandakan dosisku sampai berpuluh-puluh kali lipat.Perhiasan dan harta berharga peninggalan nenekku kujual habis."Cecilia,apakah kamu melihat cincin nikah Bibi?"tanya bibiku."Nggak lihat,Bi,"jawabku.Padahal cincin itu ada di kantongku."Aduh...baru kemarin anting Bibi hilang.Yasudah,kamu pergi belajar saja.Biar Bibi cari sendiri,"kata Bibi.

Tapi apa daya,akhirnya aku pun tidak sanggup membiayai gaya hidup baruku setelah sebulan."Yah,aku tidak bisa memberikannya tanpa imbalan,"kata Vio saat aku bertanya apakah dia bisa memberikan narkoba itu."Kalau begitu begini saja.Kau jadi anak buahku,"tawar Vio.Dengan cepat,aku menggangukan kepala dan menerimanya.

Setelah itu,aku mengontrol beberapa transaksi narkoba.Aku menjadi tangan kanan Vio.Ia membocorkan beberapa rencananya."Hm..Seira dan Cathy malah membangun bisnis sendiri ya.Bolehlah,"kata Vio."Cecilia,awasi terus mereka.Jangan sampai mereka berbuat aneh-aneh,"perintah Vio."Oke."

Mereka berdua menjalankan bisnisnya secara kompeten,sampai akhirnya,dalam suatu kejadian yang absurd,ditangkap oleh pengedar narkoba lain."Itu pasti Maya,"kata Vio saat aku mengabarkan tentang situasi itu."Tenang saja,itu akan kuurus.Aku punya banyak koneksi di kepolisian.Sekarang aku punya tugas baru,"kata Vio."Tugas baru apa?"tanyaku.Vio menyalakan TV."Seorang anak ditemukan hilang di rumahnya pada hari Kamis malam kemarin.Pada rumahnya terdapat tanda silang berwarna biru,seperti korban-korban penculikan sebelumnya.Dengan demikian,sudah ada 16 kasus penculikan bulan ini.Tersangka diduga merupakan penculik anak 'Putri Biru'.Sampai saat ini,Putri Biru belum bisa ditangkap oleh pihak kepolisian." "Apa-apaan...seorang penculik anak,tanpa alasan mencoret rumah korban dengan cat biru? Apa pentingnya dia?"tanyaku."Dia penting,karena tujuh dari 16 korban adalah pecandu narkoba yang berada di bawah anak buahku,"jawab Vio."Aku tidak peduli siapa Putri Biru ini,tapi lacak dia.Kita tidak tahu dia di pihak siapa,bisa jadi musuh,bisa jadi beroperasi secara individu.Pokoknya,cari dia.Kalau dia menunjukkan perlawanan,bunuh saja."

Jadi,tugasku adalah menemukan seorang penculik anak yang hobinya mengecat rumah.Aku mencari informasi ke mana-mana,bahkan sampai pura-pura bersimpati dengan beberapa korban penculikan.Tapi,toh,aku mendapatkan kurang lebih postur tubuh Putri Biru.Seorang perempuan remaja,sekitar 17 tahun,1 setengah tahun lebih tua dariku.Lumayan tinggi,sekitar 165-166 cm dan ramping dengan rambut biru.Sementara aku bekerja keras,Putri Biru sudah merenggut lebih banyak korban,dan,anehnya,banyak di antara mereka yang merupakan anak buah Vio.Dan,yah,Vio makin kesal.Apalagi,banyak di antara mereka mempunyai posisi yang cukup tinggi.

Tanpa kemajuan sama sekali,aku memutuskan berkonsultasi dengan Remi.Ia adalah salah satu orang kepercayaan Vio."Cecilia.Kenapa kau datang kemari?"tanya Remi."Aku butuh bantuanmu,"jawabku,"Vio menyuruhku mencari Putri Biru." "Putri Biru? Hmmm...Itu tidak akan mudah,"kata Remi."Aku tahu,"ujarku."Yah,aku juga tidak bisa membantu banyak,tapi aku punya beberapa profil foto anak buahnya Fione,"kata Remi."Siapa Fione?"tanyaku."Rivalnya Vio.Dia juga mengontrol perdagangan narkoba skala besar.Dia juga ahli bersembunyi.Wajahnya saja tidak diketahui orang,"jawab Remi."Nih,lihat saja sendiri,"kata Remi sambil memberikan arsip itu kepadaku."Laki-laki yang di ujung itu Vidi.Lalu orang yang di tengah itu Artria.Dua orang yang di belakang itu Agnes dan Caitlyn.Aku belum menemukan nama orang yang di kanan itu,"jelasnya.Orang itu berambut biru,seorang perempuan remaja,cukup tinggi..."Putri Biru,"jeritku pelan."Hah? Itu Putri Biru?"tanya Remi.Belum sempat aku menjawab,Remi jatuh pingsan.Sebuah jarum suntik ditusukkan ke lehernya oleh sesosok musuh.Putri Biru melihatku sinis.

"Minggir!"teriakku sambil menendang tangan kanannya yang sedang memegang leher Remi.Remi terlepas dari genggamannya.Putri Biru melancarkan tendangan kepadaku sambil berusaha membawa Remi.Aku menepisnya dengan mudah.Tinjuku mengenai rahang bawahnya.Ia tumbang ke tanah,kepalanya berdarah setelah mengenai meja.Tapi ia masih mencoba berdiri,meski terhuyung-huyung.Aku mengambil botol kaca dan memukul kepalanya.Ia meringis menahan sakit,sebelum akhirnya tumbang lagi.Saat itu,dua orang yang kukenali sebagai Artria dan Vidi menerobos masuk.Mereka membawa Putri Biru,sambil menggumam,"Si idiot ini pasti habis dihajar Fione nanti." Aku tidak bisa melawan,karena serpihan botol kaca tadi ikut menusuk kakiku sehingga aku sulit berjalan.

"Vio,Remi hampir saja diculik Putri Biru.Bisakah kau ke sini? Kami berdua tidak bisa berjalan,"kataku."Hah? Putri Biru?"tanyanya."Ya,dia mau menculik Remi,tapi aku menghalaunya.Vidi dan Artria menyelamatkannya,"jelasnya."Diam di situ.Aku akan datang dalam lima menit,"kata Vio.Lima menit kemudian,Vio dan beberapa anak buahnya datang menghampiri kami."Bawa mereka berdua,"perintah Vio."Nah,Cecilia,kudengar Putri Biru diselamatkan Vidi dan Artria.Kau yakin dengan itu?"tanya Vio."Aku yakin.Mereka juga mengatakan Fione akan menghajarnya nanti,"jawabku."Fione? Nah,aku paham sekarang.Putri Biru pastilah anak buah Fione,"kata Vio."Fione itu siapa,sih?"tanyaku."Jadi begini.Dulu,ada dua orang kakak beradik yang menjalankan bisnis narkoba.Aku dan Fione adalah anak buah mereka.Tapi,mereka lalu bertengkar karena sesuatu.Lalu,bisnis mereka pun terbagi dan mereka berkonflik satu sama lain.Aku memutuskan mengikuti si bungsu,tapi Fione mengikuti si sulung.Mereka berdua tewas saling tikam,dan kami mewarisi bisnis mereka.Kau tahu sisanya,"jelas Vio,"Dan kalau memang Putri Biru anak buahnya,aku tidak akan heran jika mayatnya ditemukan di tempat sampah besok."

Setelah itu,beberapa waktu kemudian,kondisi jadi agak kacau."Bagaimana dengan Seira?"tanyaku."Seira? Payah.Dia malah kerja di tempat prostitusinya Kana.Dia sudah ku urus.Ah,kelihatannya salah jika kita masih berharap.Aku punya video mesumnya,sih.Kalau dia mau berbuat macam-macam,aku akan pakai itu.Cecilia,urus saja peredaran narkoba kita,"kata Vio."Oke.Memangnya dia bisa berbuat apa,sih?" "Yah,dia bisa saja melaporkan kita pada polisi.Tapi jangan cemas.Aku punya banyak video untuk memerasnya." "Yah,kita punya urusan yang lebih penting daripada mengurus Seira." "Dan satu lagi....Jangan beritahu siapapun terlalu banyak informasi.Nampaknya ada mata-mata di wilayah kita,"kata Vio.Aku terperanjat."Ada apa?" "Belakangan ini,banyak operasi kita terbongkar polisi.Anak buahku juga banyak yang tertangkap.Peter,dia terbunuh saat disergap polisi.Surya,dia tertangkap karena menerima perintah palsu.Fanya,dia selamat tapi terluka parah.Mina,yang bersama Fanya,terbunuh saat diserang orang tidak dikenal.Jadi,hati-hati.Kecuali kalau kau mata-matanya.Jika begitu,akan kupastikan kau jadi mayat.Paham?" "Paham." "Ngomong-ngomong,Fanya baru sembuh,tapi dia tidak bisa kuhubungi.Lokasi terakhirnya di Nagapura.Cari dia dan sekaligus ancam Seira.Dia tidak jauh dari sana." 

Aku meninggalkan tempat ini dengan perasaan was-was.Belum sampai dua puluh langkah,kekhawatiranku terwujud.Dalam waktu sepersekian detik,aku merasakan leherku dicekik seseorang.Aku meronta-ronta berusaha membebaskan diri sambil berteriak.Vio mendengarkannya.Hanya melihat Vio dan anak buahnya,si penyerang kabur."Nampaknya mata-matanya bukan kau,ya.Jangan beritahu Remi atau Fanya."

Nagapura.Kana menjalankan bisnisnya di sana."Kenapa pula Fanya ke sana?"batinku.Untuk menghindari kemungkinan aku mati konyol sebelum sampai ke sana,aku memutuskan lewat jalan raya.Sialnya,tepat satu kilometer di depan Nagapura,ada razia polisi.Walaupun melewati jalan pintas yang terpencil memiliki resiko,aku tidak mau masuk penjara karena punya beberapa gram sabu.

"Sedikit lagi sampai,"batinku sambil terus mengayuh sepedaku."Heeatt!" Sebuah tendangan kencang mementalkanku dari sepeda."Sial!"gumamku.Caitlyn menampakkan dirinya.Pisau tajam itu siap menyobek kulitku.Pisau itu bergerak cepat,tapi hanya menebas udara.Aku mengelak dan dengan cepat melancarkan sebuah pukulan ke arah wajah Caitlyn.Dia menahan pukulanku dengan tangan kirinya,sementara tangan kanannya menyandera leherku.Cekikannya kuat.Aku lemas dan kehabisan napas."Dor!!" Bunyi senjata api terdengar dari kejauhan.Peluru itu menembus perut Caitlyn,membuatnya berteriak kesakitan dan melepaskan cekikannya.Aku berlari sekencang mungkin.

Akhirnya aku sampai di Nagapura.Aku duduk sebentar di sebuah kursi.Bekas cekikan itu masih ada."Halo Nona,namaku Aelita.Tertarik untuk menyewaku?"tanya seseorang.Aku mendongak dan melihat seorang remaja perempuan yang seumuran denganku.Ia memiliki kulit coklat muda dan rambut hitam panjang yang diikat.Sesaat,aku terdiam karena kebingungan.Fakta bahwa seorang perempuan remaja menawarkan jasanya padaku sangatlah janggal.Kurasa aku terdiam sekitar 10 detik sampai akhirnya bisa menjawab,"Tidak."

"Kenapa pula aku harus menyewamu?"tanyaku kesal."Karena,tidak seperti yang lainnya,Nona boleh melakukan apapun denganku.Apapun,tanpa batasan dan halangan." Aku menggeleng sambil berkata,"Aku tidak tertarik." "Ayolah Nona,hanya enam ratus ribu rupiah per jam.Lakukan apapun yang Nona inginkan,fantasi apapun yang Nona miliki,dan.." Aku memberikannya uang tiga ratus ribu rupiah dan berkata,"Fantasiku adalah melihatmu lenyap selama setengah jam!" Aelita tersenyum."Baiklah,Nona,"katanya."Dasar idiot,"batinku.Aku beranjak dari kursi itu.Aku menghampiri "kantor pusat"-sebuah bangunan kecil suram yang dihuni salah satu anak buah Vio,yaitu Kana.Kana juga punya anak buah,si kembar Lesley dan Leslie.

"Cecilia.Ada urusan apa kau kemari?"tanya Kana."Di mana Fanya?"tanyaku."Fanya? Terakhir kali kudengar ia sedang menginap di Hotel Majaraya.Itu dua hari yang lalu,sih,"jawabnya."Kalau Seira?" "Sama.Dia bersama Shizuka." Tiba-tiba,Vio menelefon."Ya,Vio,ada apa?" "Cepatlah ke kasino samping Hotel Majaraya.Fanya menghubungiku.Dia disekap di sana!"

Aku langsung berlari secepat mungkin.Hotel Majaraya kini tepat di depanku.Di sampingnya,ada kasino reyot yang sudah tutup.Pintu tua kasino itu kudobrak.Fanya berada di dalamnya.Tangan dan kakinya diikat.Agnes juga berada di sana.Pisau tajam di tangannya siap membabat Fanya."Cukup nekat tindakanmu untuk menghubungi Vio.Tapi...." "Tapi hari ini dia tidak akan mati!"teriakku sambil menendang bagian belakang kepalanya.Sebelum ia sempat membalas,aku merebut pisaunya,dan menancapkannya di lengan kanannya.Lengan kirinya bergerak maju mengincar leherku,persis seperti Caitlyn.Aku menarik pisau lipat dari kantongku dan mencoba menusuk lengan kirinya.Agnes menghindarinya dan justru menjambret pisau lipat itu.Kaki kirinya menendang perutku dan membuatku jatuh.Tepat saat ia ingin menikamku,sebuah peluru menembus lengan kanannya.Peluru yang lain mengenai perutnya dan membuatnya jatuh.Aku mengambil pisau lipat di lantai.Pisau lipat itu kugunakan untuk menebas tali yang mengekang Fanya.Kata Vio,ia bisa gila kalau begini terus.

Beberapa waktu kemudian,Vio memanggilku ke markasnya.Mayat Seira dan seorang lagi yang tak kuketahui tergeletak disana."Natalie membunuh mereka.Dia sendiri juga terbunuh,"kata Vio."Fione ingin bermasalah dengan kita rupanya,"lanjutnya.Tiba-tiba,Fanya mendobrak masuk sambil berkata,"Kita harus lari! Anak buah Fione sedang menyerbu tempat ini!" "Hah?! Kenapa mereka bisa tahu tentang tempat ini?"teriak Vio kaget."Kayaknya beberapa anak buah kita adalah mata-mata.Cepatlah,kita harus kabur!"teriak Fanya.

"Cari Vio! Periksa pintu belakang!"perintah Artria."Punya mata-mata memang memudahkan,ya,"gumamnya.Puluhan orang berbaju hitam mengikutinya.Aku,Vio,dan Fanya lari lewat pintu belakang.Persis saat aku melangkah keluar,Artria menarikku ke dalam."Kejar dia!"teriaknya sambil menunjuk Vio.Aku mencoba melepaskan tangannya,tapi ia menusukkan jarum suntik berisi obat bius.Aku tak tahu apa apa lagi.

Saat aku bangun,tangan dan kakiku sudah terikat.Natalie,pembunuh Seira,menyeringai kepadaku."Bukannya kau sudah mati?"tanyaku kaget."Oh,aku tidak mati semudah itu,"jawabnya.Cambuknya menyobek daging tubuhku.Ia mengayunkan lagi,dan lagi,dan lagi.Ia terus menerus bertanya,"Di mana Vio?!" Aku selalu menjawab,"Aku tidak tahu." Setelah beberapa jam,Natz pergi sambil berkata,"Kau punya waktu semalam untuk memikirkan jawabanmu.Kalau masih keras kepala,kau akan bernasib sama dengan dia." Ia menunjuk orang di sampingku.Aku menoleh melihatnya.

Itu Putri Biru,tak salah lagi.Kondisinya mengenaskan.Pakaiannya terkoyak tergeletak di lantai,digantikan darah yang bergelimang menyelimutinya."Ah..Cecilia..Sudah lama juga,ya,"katanya."Kau...Putri Biru?"tanyaku untuk memastikan."Itu nama aliasku.Nama asliku Rein.Rein Maples,"jawabnya."Apa yang terjadi?"tanyaku."Yah,begitulah.Kau menggagalkan upayaku menculik Remi.Vio jadi tahu identitasku.Fione marah sekali,"jawab Rein."Untuk apa kau menculik Remi dan anak-anak?"tanyaku lagi."Tujuan utama,menghabisi anak buah Vio.Tujuan kedua,menyuplai orang untuk bisnis perbudakan anak milik Fione,"jawabnya."Perbudakan anak?" "Ya,benar.Makanya yang kuculik remaja semua." "Cecilia,kalau kau memang tahu di mana Vio,beritahu saja.Di sini,kita diperlakukan lebih rendah dari hewan.Kau lihat kalung ini? Ini kalung untuk anjing peliharaan.Serendah itulah diri kita di hadapan mereka,"saran Rein."Aku juga tidak tahu...,"kataku lirih."Ah...Entah apa yang akan dikatakan ayahku jika beliau melihatku seperti ini,"katanya."Ayahmu?" "Ya.Ayahku penjual roti.Aku sering bertengkar dengannya sejak aku memakai narkoba.Tak terbayang jika beliau tahu aku seorang penculik anak,"jelas Rein.

Keesokan harinya,Natz masih menanyakan hal yang sama,dan kujawab dengan jawaban yang sama pula."Natz,bagaimana dengan tugasmu?"tanya seseorang yang baru memasuki ruangan."Ah,Fione,dia masih mengaku tidak tahu,"jawab Natz."Biar kuurus dia.Bawa Rein kemari,"kata Fione."Nggak mau! Nggak mau!"berontak Rein."Berisik!"teriak Natz sambil menyeretnya."Masih berani melawan,rupanya,"komentar Fione.Ia menarik tangan kananku,dan menggoresnya.Darah segar mengalir keluar."Kau haus,kan?" Minumlah,"kata Natalie.Rein menggeleng."Eh? Sejak kapan seekor hewan peliharaan tidak mematuhi majikannya? Wah,wah,hewan seperti ini harus didisiplinkan,iya,kan,Natz?" "Aku bukan hewan! Aku manusia!"teriak Rein sambil menangis."Hmph.Dasar.Inkompeten,payah,tidak berguna,gampang sekali ketahuan.Natz,kurasa Vena dengan senang hati mau mengurusnya di tempat itu,bukan? Kita bawa Cecilia juga,"kata Fione."Jangan! Kumohon...Jangan ke sana,"kata Rein memelas.Permohonannya tidak digubris."Kau membuat kami rugi puluhan miliar rupiah.Emas yang kau curi untuk berjudi,masih belum kau bayar semuanya.Kau masih berharap kami mendengarkanmu?"

Ruangan penyiksaan total,begitu Rein menyebutnya."Vena,lihat siapa yang kubawa,"kata Natz."Paling Rein lagi.Aku bosan,"kata Vena."Ya,aku tahu.Makanya Cecilia ikut kubawa." 
"Ada boneka baru,ya.Ayo masuk,Natz.Kita lihat siapa yang mengerang lebih keras nanti,"kata Vena."Baiklah,kalian berdua bereskan mereka.Oh,jangan lupa tanyakan apakah Cecilia tahu lokasi Vio,"kata Fione sambil beranjak pergi.Di sana,aku memutuskan untuk diam.Membiarkan rasa sakit itu meresap.Tapi toh,itu ada batasnya.Aku berteriak kencang sekali.Rein nasibnya tidak lebih baik."N..N..Natalie,kumohon,jual saja aku ke perbudakan milik Fione.Aku tidak kuat lagi.Kumohon..." "Apa bedanya? Di sini kau diperbudak,di sana juga.Dan juga,kubilang tidak ada anjing yang berdiri dengan dua kaki.Semuanya memakai empat kaki!" Natz lalu menendang punggung Rein."Bunuh aku.Kumohon.Bukankah Fione punya koneksi ke pasar gelap organ manusia?" "Fione mengatakan dengan sejelas-jelasnya supaya kau tidak dibiarkan mati dengan nyaman,"jawab Vena."Dan jangan khawatir,selama ini kan kita direkam.Banyak orang membayar mahal untuk itu,"kata Natz."Lanjutkan,Natz,"kata Vena.Terbersit sedikit keraguan di matanya."Kalian mengingatkanku pada Seira.Mirip dengan kalian.Cengeng,lemah,dan suka menangis.Ah,kalau saja saat itu aku berhasil."

Rasanya lega sekali saat mereka pergi.Aku bersandar pada dinding,sementara Rein terbaring di dekatku.Kami disiksa hingga titik batas manusia.Titik dimana jika siksaan itu dilanjutkan,kami pasti mati.Ironisnya,itulah yang kami inginkan.Aku dan Rein menggigil kedinginan.Ruangan itu begitu mencekam,dan hawanya begitu dingin.Kami begitu lelah dan kesakitan,dan tubuh kami-yang tidak diselimuti sehelai benang pun-memiliki bekas luka yang tak terhitung banyaknya.Rantai yang mengekang kami masih kukuh.Kami diperlakukan,mengutip Rein,"Lebih rendah dari hewan dan selayaknya mainan yang bisa dibongkar pasang dan dimainkan pemiliknya."

Saat tengah malam,seseorang membuka pintu ruangan yang gelap itu.Ia berjalan perlahan dan memakai jubah,seakan tidak ingin diketahui keberadaannya."Rein,Cecilia,kalian masih bisa bertahan?"tanya orang itu."Artria? Kaukah itu?"tanya Rein lemah.Artria mengganguk.Ia memberikan dua mangkuk mi ayam jamur dan segelas air putih.Kami tidak pernah makan seenak itu sejak dikurung di sini."Polisi akan datang besok pagi.Bertahanlah,"kata Artria.Ia pun pergi sambil membawa mangkuk dan gelas kosong."Jadi dia mata-matanya,"kata Rein."Mata-mata apa?"tanyaku."Fione sudah lama mencurigai ada mata-mata polisi di sini,"jawab Rein."Akhirnya kita bisa keluar dari tempat terkutuk ini,"kataku.Wajah Rein langsung agak muram."Ya,benar...Hanya saja,aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa pada ayahku." Aku menoleh dan melihat Rein."Cecilia,sebenarnya obsesiku yang pertama bukanlah narkoba,tapi judi.Seperti kata Fione,itulah alasan aku mau melakukan pekerjaan kotor itu.Aku ingat dulu aku menghabiskan uang tabunganku.Setelah itu,aku mencuri uang ayahku.Toko roti ayahku nyaris bangkrut gara-gara itu.Lalu,Agnes menawariku pinjaman.Aku tidak bisa membayarnya kembali,jadi Natz membawaku ke ruangan bawah tanahnya,tempat Fione menyimpan budak untuk diperjualbelikan.Natz memaksaku membayar atau dia akan menjualku di pasar budak.Aku bilang bahwa aku akan membayarnya nanti.Tapi saat itu juga,aku melihat emas batangan yang jumlahnya banyak sekali.Aku mencurinya saat Natz lengah.Tapi Agnes dan Caitlyn melacakku.Lalu,Natalie sendiri yang melatihku..."

Pagi-pagi sekali,dentuman senapan dan pistol mulai terdengar.Tak sampai satu jam setelahnya,aku melihat Fione,Vena,dan anak buah lainnya."Cih,pengkhianat kau,Artria!"teriak Fione."Memang,"kata Artria.Natz dan Vena menatapnya marah.Natz bahkan meronta-ronta."Kau lupa,kita saudara?!"teriak Vena."Aku ingat persis,Vena.Aku hanya tidak ingin kita melanjutkan ini.Terlalu kotor." "Oh,ya? Bukan karena pacarmu,Vidi,dibunuh?"Tepat saat Natz mengumpat kepada seorang polisi,pintu kayu di depan-yang cukup rusak karena didobrak tadi-rubuh didobrak lagi.Vio melemparkan sebuah granat asap."Bagus,Remi.Fanya,habisi Natz dan Vena.Aku akan cari Fione,"perintah Vio.Asap itu cepat lenyap,dan saat lenyap,Remi menodong Vio dan Fanya.Ia juga ditodong seorang polisi,dan Vio menodong Fione."Fione,apa-apaan ini?"tanya Remi."Pengkhianat ini,"jawab Fione sambil menoleh ke arah Artria,"Membocorkan lokasi kita." "Remi! Jadi kau mata-matanya!"jerit Fanya."Masalah siapa mengkhianati siapa,dan siapa memata-matai siapa,itu urusan nanti.Sekarang,bawa mereka semua ke kantor." Rein dan aku dilarikan ke rumah sakit.

Kami dirawat intensif.Dr.Reyfandi-dokter ternama tamatan S3 di Jerman pemilik RS ini-sendiri yang mengobati kami,karena kondisi kami yang kritis.Segera saja,kami dilanda diare hebat("Menjilati makanan dari lantai yang kotor adalah hal paling bodoh yang pernah kudengar.") dan mual.Kami juga diberi perawatan psikologis untuk mengatasi trauma.Kondisi Rein agak lebih parah dariku."Kalian diapakan saja sampai begini?"tanya Dr.Reyfandi."Dokter,kamibahkan tidak dianggap manusia di sana." "Kondisi kalian kacau balau.Aku tidak paham kenapa tulang panggul kalian bisa rusak.Bukan sekedar patah,tapi remuk.Jujur,aku belum pernah melihat kasus separah ini sebelumnya.Kalian bakal dirawat lama.

Rein putus asa dan cemas.Ayahnya tak kunjung datang."Ya,benar.Tentu saja tidak ada yang mau mengakui b******n sepertiku,"gumamnya."Hei,jangan terlalu pesimis begitu.Mungkin ayahmu hanya tidak tahu RS yang kita tempati,"hiburku."Tapi bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau aku ditelantarkan? Bagaimana kalau.." Perkataan Rein terputus suara pintu terbuka,menampilkan sosok seorang laki-laki berwajah kebapakan."Ayah!!" "Rein!! Astaga Nak,sudah lama ayah mencarimu,"kata pria itu."Ayah..Maafkan aku,Yah!"kata Rein sambil memeluk ayahnya.Keduanya menangis."Tidak apa-apa,Nak! Bagaimana pun kamu tetap anak ayah!" "Astaga,Nak,apa yang mereka perbuat kepadamu?"tanya ayah Rein."Ini hukuman yang sepadan untuk dosa-dosaku,Yah!"jawab Rein."Jangan bilang begitu,Nak! Ya ampun,seluruh tubuhmu sampai diperban begini."

Ia menoleh kepadaku.Rasa-rasanya aku kenal."Paman Kumar?!" "Cecilia?!" Ya,ayah Rein ternyata pamanku.Paman jauh,sih.Kami pernah bertemu beberapa kali."Ayah kenal Cecilia?"tanya Rein yang sudah berhenti menangis."Kenal,Nak.Ia keponakan Ayah,"jawab Paman Kumar."Paman,bagaimana kabar Bibi Evelyn?"tanyaku."Bibi Evelyn.....Sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan,"jawab Paman Kumar dengan nada sedih.

Kini giliranku menangis.Bibi Evelyn yang mengasuhku dengan sabar,telah pergi.Rein menepuk pundakku,berusaha menenangkanku.Sekitar sepuluh menit kemudian,aku akhirnya tenang."Oke,Cecilia.Paman rasa sebaiknya kamu tinggal di rumah Paman saja." Aku mengganguk dan berkata,"Terima kasih Paman." "Tunggu dulu.Kita tidak bisa ke rumah itu dengan begitu saja,"sela Rein."Maksudnya?" "Ya,kita kan harus dipenjara dulu." Ya.Meskipun Rein dan aku disiksa oleh Fione dan kroni-kroninya,itu tetap tidak menutup kenyataan bahwa aku terlibat dalam perdagangan narkoba dan Rein dalam penculikan anak.

Kami memberikan segala detail informasi yang kami miliki.Itu pasti bisa mengurangi masa hukuman kami,karena Fione dan Vio masih keras kepala.Akhirnya,pada hari sidang yang mendebarkan itu,hukuman kami dibacakan.Kami harus menunggu lama untuk itu,karena Fione dan Remi dua kali mengamuk di ruang sidang,dan Vio menolak berbicara sepatah kata pun."Violleta Jeanette,58 tahun.Fione Flanelle,65 tahun.Remi Royal,52 tahun.Vena Nalis,60 tahun.Artria Nalis,bekerja sama dengan pihak kepolisian,16 tahun.Fanya Querille,40 tahun.Natalie Velvet,60 tahun.Cecilia Willow dan Rein Maples,kooperatif dan memberikan bukti,19 tahun." "Hah?! Kenapa hukumanku paling besar?!"tanya Fione dengan marah."Tuduhan Anda sangat serius.Perdagangan narkoba,penyelundupan,penyuapan,lalu penculikan,penyiksaan,dan pelecehan seksual ekstrem terhadap Rein Maples,Cecilia Willow,dan korban-korban lainnya,serta juga perbudakan anak." Selain itu,Natalie juga dikirim ke RS Jiwa.

Tangan kami masih terbelenggu,dan kaki kami masih tertahan,tapi setidaknya kami sekarang ditutupi pakaian yang layak.Setidaknya kami bisa makan selayaknya manusia biasa,bukan menjilati makanan dari lantai.Setidaknya kami tidak lagi berada di ruangan gila dengan psikopat gila dan metode gilanya.Paman Kumar mengunjungi kami tiga minggu sekali-itu kuota maksimal-dan itu membuat kami senang.Rein punya semangat hidup lagi.Ia tidak lagi mengata-ngatai dirinya sendiri."Kau tahu,Cecilia,aku beruntung bertemu denganmu,"kata Rein saat kami di luar sel.Kami berada di lapangan penjara.

Seorang wanita,berumur 40-an,yang nampaknya seorang pengunjung yang sedang didampingi seorang petugas,menghampiri kami.Ia bertanya,"Kamu Putri Biru?" "Uh...Ya,"jawab Rein.Tanpa kusangka,ia menampar Rein."Anakku! Luna! Kau kemanakan dia?! Sungguh keji! Ia hanya tercemar pergaulan bebas,dan kau menculiknya!" Rein langsung menunduk,tak kuasa berbicara bahkan untuk sekedar meminta maaf.Wanita itu histeris.Rein makin gelisah,tangannya gemetar tak karuan.Rein sangat sensitif jika menyinggung penculikan anak.Wanita itu akhirnya mau pergi setelah diyakinkan oleh petugas yang mendampinginya."Rein,kau tidak apa-apa?"tanyaku."Ya.Tidak apa-apa.Anak bernama Luna itu.....Salah satu korban pertamaku."

Rein butuh sepuluh menit untuk menenangkan diri."Kenapa,sih? Kok ada suara ribut-ribut di sini?"tanya seseorang."Fanya?! Bukankah kau seharusnya di penjara lain?" "Yah,polisi butuh bantuanku untuk melacak beberapa gudang yang tersisa.Aku tak tahan dengan penjara Nijaya,jadi aku minta pengurangan masa hukuman dan dipindahkan ke sini.Baru tadi pagi aku pindah,"jawab Fanya."Ruangan selmu nomor berapa?"tanyaku."88.Ada dua orang lain di sana,melihat dari jumlah tempat tidurnya." "Dua orang itu kita,"kata Rein."Sudah saatnya kalian kembali ke sel.Waktu jalan-jalan sudah habis!"

"Yah,kita akan menjalani waktu di penjara bersama.Penguranganmu berapa tahun,Fanya?"tanya Rein."Lima belas tahun.Waktuku di sini jadi 25 tahun." "Omong-omong,kau mengurus apa,sih? Hukuman awalmu juga cuma 40 tahun,kan?"tanyaku."Penyelundupan barang mewah.Makanya aku tidak begitu parah hukumannya." "Oh.." 

Malam pun tiba.Rein,Fanya,dan aku belum tidur.Kami masih berbincang."Hei,pelankan suaranya!"kata seorang penghuni sel di sel seberang kami."Lesley?! Kok kau bisa di sini?" "Cecilia? Fanya? Kalian sendiri kenapa bisa di sini?" "Anak buah kalian,ya?"tanya Rein.Fanya dan aku mengganguk."Semuanya sudah selesai,Lesley.Vio dan Fione sudah dipenjara,dan semua jaringan kita sudah dilenyapkan." "Bagaimana dengan Leslie? Apakah kalian mendengar kabar tentang Leslie?"tanya Lesley."Leslie? Kakak laki-laki mu? Tidak." Lesley langsung gelisah."Kenapa dengan dia?"tanya Fanya."Ini semua gara-gara Seira.Saat dia dan Cathy menjarah gudang besar yang diincar Michelle yang merupakan anggota komplotan Fione,mereka menemukan stok narkoba yang banyak di bawah tanah.Mereka mengambil semuanya.Gudang itu aslinya milik Vio.Makanya ia melacak Seira.Karena ternyata dia kerja di tempatnya Kana,Vio mengirimkan Freya untuk membawa Seira.Tapi akhirnya gagal,karena Leslie dan aku memberi tahu polisi.Kami muak jadi pengatur di sana.Kana lalu menculik Leslie dan memaksaku membayar sejumlah narkoba di gudang itu.Aku tak punya uang sebanyak itu,jadi Kana menyuruhku untuk menjual diri.Lalu dua minggu kemudian,aku tertangkap di hotel dan dibawa ke sini,"jelas Lesley.Mendadak,Lesley tertidur."Gas tidur!"teriak Fanya.Kami bertiga segera menutup hidung.

"Sialan,dia tidak ada di sini!" Suara itu kukenal baik.Natz.Di belakang ada beberapa orang lain.Ia menoleh kepada kami,dengan sedikit rasa ragu,dan berkata,"Bawa mereka!" "Cih,tidak akan!"teriak Rein.Natz menyemprotkan gas tidur tepat di wajah kami."Habislah,"gumam Fanya.

Saat bangun,kami melihat pemandangan yang umum bagiku.Aku bersusah payah melihat siapa yang jadi korban."Di mana adikku,Natasha? Jawab,j****g!"teriak Natz.Ayunan cambuk yang menjadi mainannya,kini terlihat lebih ganas.Darah membanjiri lantai.Rantai mengekang kaki dan tangan korban itu.Begitu aku melihat rambut hijau zamrud yang diikat itu,aku tahu persis siapa itu."Remi!" "Oh,sudah bangun,ya.Ayo ikut aku.Kalian pasti bingung.Kita bicarakan di ruang makan saja,"kata Natz.Fanya dan Rein terlihat enggan,tapi aku langsung bangkit berdiri."Cecilia,kau yakin?"tanya Rein."Percaya dengan firasatku." "Kuharap firasatmu tidak mengantarkan kita ke kuburan."

Natz mengeluarkan sebuah kue coklat besar."Baik,kalian pasti punya banyak pertanyaan.Silakan tanya,"ucap Natz."Apa maksudmu dengan Natasha?"tanyaku."Dia adikku yang paling ku sayang.Aku bukan sosiopat,apalagi psikopat.Orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil,bukan ditusuk atau apalah yang diceritakan Remi.Aku hanya orang biasa yang ingin hidup normal.Tapi kakaknya Remi,yang aku tidak ketahui namanya,menculik adikku Natasha.Ia dan adiknya,Remi,memaksaku hidup dalam identitas ganda.Saat ia tewas ditikam,Remi mengambil alih.Seorang b******n digantikan b******n lainnya,"jawab Natz.Ia lalu memotong kue coklat itu dan memberikan kami masing-masing sepotong."Tunggu dulu...Kenapa aku disuruh menculik Remi kalau dia sepihak dengan Fione?"tanya Rein."Fione hanya boneka.Dalang sebenarnya adalah Remi.Vio agak naif,jadi Remi kira ia bisa membuktikan loyalitasnya jika kau menculiknya.Rencananya Remi akan memberitahumu,Rein,bahwa dia sepihak dengan Fione.Tapi,Cecilia mengagalkannya,sekaligus juga membuat Vio tahu Fione sedang memburu anak buahnya,"jawab Natz."Lalu Remi menyuruhmu menculikku dan Cecilia." Natalie terdiam sesaat sebelum berkata,"Benar." Ia mendadak gemetar,dan mulai terbata-bata.Ia mengeluarkan beberapa pil dari botol berisi pil penenang,dan menelannya."Aku bisa gila.Bertahun-tahun,aku dipaksa memakai identitas palsu sebagai seorang pembunuh berdarah dingin.Remi ingin menjadikanku senjata.Dampaknya mengerikan.Aku sulit tidur,kadang tiba-tiba gemetar,dan lain-lain." "Orang-orang tadi anak buahmu?"tanya Fanya."Bisa dibilang begitu.Mereka punya keluarga dan anak yang juga ditawan Remi.Kami merasa senasib,jadi kami bekerja sama." "Kenapa kau tidak lapor polisi saja?"tanya Rein."Percuma.Ia punya banyak koneksi yang menempati posisi tinggi di pemerintahan.Banyak di antara mereka dibayar dengan uang,ada juga yang anaknya ditawan di di sini dan sebagainya.Aku juga khawatir pada adikku.Remi sama sekali tidak memedulikan nyawa.Baginya,menjual manusia ke pasar gelap sebagai budak itu hal biasa.Ia sangat haus kekuasaan.Akibatnya,anak buahnya hampir tidak ada yang setia padanya,kecuali mungkin Agnes dan Caitlyn." "Apakah kau tahu siapa yang menembaki Agnes dan Caitlyn?"tanyaku."Aku yang melakukannya.Saat itu,basis oposisi terhadap Fione adalah Vio dan anak buahnya.Kepolisian sedang sibuk karena ulah Remi yang memanipulasi para begal,penjambret,dan lain-lain.Kasus jambret tiba-tiba meningkat tiga kali lipat.Masyarakat jadi takut,apalagi saat itu kan Rein sedang meneror anak-anak.Itu semua memberikan Remi kesempatan emas untuk menjalankan bisnisnya,"jawab Natz."Jadi kau ingin mempertahankan Vio supaya ada harapan Remi tumbang dan kau bisa membebaskan adikmu." "Ya.Sebaliknya,Remi ingin melenyapkan Vio.Maka dari itu,Fanya yang masih belum sepenuhnya pulih dijadikan target.Telepon yang diterima Vio bukan dari Fanya,tapi dari Remi yang memakai ponsel Fanya dan mengubah suaranya.Vio yang naif dengan bodohnya mengirimmu untuk membebaskan Fanya.Setelah Caitlyn gagal,Agnes memancing Aelita untuk merayumu untuk menahanmu sementara.Sisanya kau tahu sendiri."

Natz kembali ke ruang penyiksaan."Remi,kau belum mau menyerah juga?" "Heh...Tak semudah itu,Natalie." "Apa yang kau tunggu? Tak ada gunanya mengulur waktu." Brak!! Kurasakan lantai di bawahku berguncang."Sebuah pintu terbuka dari bawah."Bagaimana kalau ku katakan,adikmu ada di ruang bawah tanah rumah reyotmu ini,dan ada bom waktu yang akan meledak dalam 24 jam?"tanya Remi sambil tertawa.

Cathy memasuki ruangan ini dari pintu tadi."Misi selesai,Remi." Natz langsung naik darah."Sekarang,bersenang-senang lah dengannya!" Ia berlari ke ruangan bawah tanah,diikuti oleh Rein,Fanya,dan aku."Natasha!!" "Kak Natalie!!" Para sanak saudara para tawanan tersebut bertemu lagi dengan keluarga mereka."Baik.Sekarang di mana bomnya?" Mungkin ada sekitar 30-40 orang di sana."Pada jam tangan ini,"jawab Jon,salah satu tawanan."Bagaimana menurutmu,Don?" Don adalah seorang penjinak sekaligus perakit bom.Jon,saudara kembarnya,diculik agar ia mau membuat bom untuk Remi."Pengamanannya sedang.Bisa dimatikan dengan password enam digit.Nampaknya semua passwordnya sama." "Apakah kau bisa mematikannya?" "Kalau kita punya teknologi yang mumpuni,bisa.Masalahnya,aku tidak yakin bisa dimatikan dengan waktu terbatas seperti ini,"jawab Don."Lakukan yang bisa kau lakukan.Aku akan kembali ke Remi."

Amarah Natz berlipatganda."Berikan sandinya!"teriak Natz.Tujuh belas jam berturut-turut diisi dengan adegan-adegan yang belum pernah kami lihat sebelumnya.Remi-meskipun masih terlihat kukuh-mulai melemah.Teriakannya makin pilu dan kencang.Tapi waktu yang tersisa hanya tujuh jam.Ekspresi Natz makin lama makin panik.Saat itulah,ia mendapat ide cemerlang."Bawa Cathy ke sini,"perintah Natz.

Cathy sudah diikat tangan dan kakinya."Tidak ada gunanya menyembunyikan kata sandi itu,Cathy,"kata Natz."Aku paham kenapa kau mengikuti Remi,"lanjutnya,"Dia memberikanmu uang dan kekuasaan." "Benar." "Jika begitu,aku yakin kau tahu bagaimana caranya mendapatkan harta kekayaan itu.Perdagangan narkoba yang masif,perbudakan dan jual-beli budak untuk dipekerjakan,kontrol atas pusat-pusat kebejatan moral,penyekapan dan penyuapan,dan bahkan,"Natz berhenti sejenak,"Dia memanipulasi orang lain untuk dijadikan tameng.Kau tahu semua kebusukannya.Salah sedikit,kau akan berakhir di pasar budak." Cathy terdiam.Dirinya bimbang ingin memihak siapa."Yah,berikan sandinya.Kalau tidak,silakan bergabung dengan Remi di sana,"ancam Natz."Baiklah.Dengar baik-baik.Sandinya 581130.Tapi...." "Tapi apa?" "Kata sandi untuk bom Natasha,adikmu,ditentukan sendiri oleh Remi.Aku tidak tahu apa-apa soal itu."

"Don,segera beritahu mereka tentang sandinya."perintah Natz.Don mengganguk."Aku akan memberikan sandinya,"ujar Remi.Natz menatapnya curiga."Tapi dengan satu syarat,"lanjutnya,"Bebaskan aku dan bawa aku ke rumahku." "Heh...Lalu di sana aku akan dibunuh.Benar,kan?!"gelegar Natz."Caitlyn dan Agnes sudah tidak ada di situ lagi,Remi.Mereka di sini." 

Natz membawa Caitlyn dan Agnes masuk."Cih...Bagaimana mungkin?" "Oh,aku cuma menyergap segerombolan preman yang merupakan anak buahmu.Mereka kurang bisa menjaga rahasia,"kata Natz."Kau sudah kehabisan kartu.Menyerah saja lah!"teriak Natz."Persetan! Toh satu bom itu cukup untuk melenyapkan kita semua! Lebih baik mati daripada dipenjara!" 

Natalie menyiksanya,lagi dan lagi."Jangan,Kak!Berhenti!"jerit Natasha."Natasha,jangan kesini!"balas Natz."Kalau Kakak terus begitu,Kakak tidak berbeda dengan dia!"

Natz jatuh ke tanah.Air matanya mengalir deras.Ia memeluk adiknya sambil berulang kali mengucapkan,"Maaf,Natasha." "Kak.....Pergilah,Kak.Waktu kita tinggal 5 menit,"kata Natasha."Tidak! Kakak akan selalu menyertaimu selamanya.Cecilia,Rein,Fanya,bawalah semua orang di sini keluar.Cepatlah!"

"Semuanya,keluar dari sini! Cepat!" Segera saja,semua orang berlari berhamburan keluar.Aku membopong seorang lansia.Rein dan Fanya mengatur anak-anak.Saat akan keluar,aku masih melihat Natalie memeluk Natasha.Keduanya menangis."Natalie!"teriakku."Pergilah!"

Kami menunggu ledakan yang akan muncul.Setengah menit berlalu."Lho,mana ledakannya?"tanya Fanya."Aku akan periksa ke dalam,"kataku.Natalie di dalam sama bingungnya."T..Tidak meledak?" "Itu karena kami,"kata Artria.Di belakangnya ada sejumlah petugas polisi.Kami diborgol lagi.Natz menyodorkan tangannya secara sukarela,sampai-sampai kami dibuat bingung olehnya.Cathy,Caitlyn,dan Agnes juga dibawa.

Tapi Remi menolak.Ia memukulkan buku-buku jarinya-yang sebenarnya sudah berdarah-darah-ke meja."Tidak! Tidak seharusnya jadi begini!"teriaknya."Kami sudah menemukan semua asetmu,Remi.Narkoba,budak,emas,apapun itu,kami sudah menemukannya,"ujar Artria."Pengkhianat semua! Sampah gagal!"kecamnya."Kau,Artria,aku sudah tahu semuanya bakal kacau saat kau bilang suka pada Vidi.Agnes dan Caitlyn,menghabisi Fanya dan Cecilia saja tidak becus! Rein,kau yang membuat Vio sadar aku ingin menghabisi anak buahnya.Sudah begitu maling pula! Cathy,kau yang memberikan kode bom itu.Terakhir,kau,Natalie,kaulah aktor terbesar di balik semua ini.Semuanya tidak akan berakhir begini jika kalian semua becus kerjanya dan tidak jadi pengkhianat!"

Semuanya jijik mendengar erangan Remi."Yah,kurasa setidaknya kau akan mendekam di penjara lebih lama dariku,"balas Artria."Kalau kau kira urusan bunuh-membunuh gampang,bunuh saja sendiri!"ujar Caitlyn dan Agnes bersamaan."Aku tidak pernah setia padamu.Aku hanya tidak mau dikirim ke pasar budak,"kata Rein."Aku sih ogah disiksa sepertimu.Toh aku cuma mengikutimu supaya aman dari Vio,"lanjut Cathy."Kau kira aku akan diam saja mengetahui adikku ditawan di sini?"bentak Natalie.Remi menunduk,wajahnya muram."Jadi...Tidak ada yang benar-benar setia padaku?"tanya Remi lirih."Setia pada uang dan kekuasaanmu,lebih tepatnya.Kuakui,Agnes dan aku membuat kesalahan terbesar dengan itu."

Kami lalu dimintai keterangan.Setelah beberapa jam ditanyai macam-macam,akhirnya kami bisa tenang duduk di sebuah bangku panjang di ruang tunggu.Saat Rein mulai mengeluh bosan,seseorang sedang berusaha didudukan ke bangku panjang itu.

"Nggak Pak! Saya tak tahu menahu tentang rencananya si Remi atau siapalah itu!"seru orang itu."Siapa dia?"tanya Rein saat melihatku tampak mengenali orang itu."Aelita,"jawabku,"Dia kerja di tempatnya Kana." Akhirnya Aelita mau duduk setelah dipaksa."Ah,Cecilia,kita bertemu lagi,"katanya."Ya,begitulah.Kenapa bisa kau di sini?"tanyaku."Yah,waktu aku mendekatimu dulu itu karena..." "Aku sudah tahu bagian itu." "Yah,mereka mengira aku punya bagian dalam kasus penculikan seseorang bernama Fanya." "Itu aku,"kata Fanya.Aelita mengganguk."Aku tidak percaya...Kau benar-benar mencari uang dengan cara begitu?"tanya Rein setelah aku menjelaskan kepadanya tentang Aelita."Itu tidak begitu aneh,sih.Seira juga begitu setelah bangkrut,"kataku."Seira,si Perak Serba Guna?"tanya Aelita."Si Perak Serba Guna? Itu julukannya?" "Ya,aku kenal dia.Kadang ada pelanggan yang menyewa kami berdua sekaligus,tapi hanya pelanggan kaya." "Aneh sekali julukannya,"komentar Fanya."Tidak begitu aneh.Semua pelanggan punya nama julukan untuk kita supaya mereka bisa membicarakan kami tanpa menyebut nama.Contohnya,julukanku Coklat Belgia." "Rein dan Fanya tertawa kencang sekali,sampai-sampai dimarahi petugas."Aku juga tidak sudi kerja begini kalau bukan karena terpaksa,"kata Aelita sebal."Terpaksa karena apa?"tanya Rein yang masih juga tertawa."Kerusakan hati." Rein langsung terdiam.

"Hah...Aku ini berasal dari keluarga kaya.Orangtuaku memanjakanku,karena aku anak tunggal.Orangtuaku sama sekali tidak peduli padaku.Tapi mereka selalu memberiku uang.Lalu,aku mulai kenal alkohol di mall.Mulanya masih alkohol ringan,hanya beberapa persen saja.Lalu aku bertemu Cathy.Dia mengenalkanku pada alkohol keras.Aku jadi ketagihan,sampai dokter keluargaku mendiagnosisku dengan kerusakan hati karena alkohol.Orangtuaku mengusirku gara-gara itu.Lalu,ada beberapa laki-laki yang...yah,kau tahulah....pokoknya begitulah." 

Akhirnya,hukumanku dan Rein dikurangi satu tahun,hukuman Natalie dijadikan 40 tahun ditambah penyembuhan mental,Hukuman Remi dinaikkan dua kali lipat,dipindahkan ke penjara Nijaya yang mengerikan dan diberikan sel paling kecil di sana(Kabarnya dia dihajar di sana setelah memukul seorang tahanan).Natalie ditempatkan di sel kami.Mayat Seira dan Freya-yang dicuri Vio-dikembalikan untuk dikuburkan secara layak.

"Natz! Kau di sini?"seruku saat melihat Natalie di selku.Natz tersenyum dan menjawab,"Ya.Senang rasanya." Ia duduk di kasur."Kudengar Seira dan Freya sudah dikuburkan,ya?"tanyanya.Rein dan Fanya mengganguk serempak."Bagaimana terapimu?"tanyaku."Lumayan.Insomnia dan mimpi burukku sudah hilang." "Mimpi buruk?"tanya Rein."Ya...Aku sering mengalaminya.Mimpi yang sama pula!" "Mimpi apa?" "Dalam mimpi itu,aku diikat di rumahku,lalu ada Rein,Cecilia,Seira dan Freya di situ.Lalu....Mereka menyiksaku,persis seperti aku menyiksa mereka.Akhirnya aku sulit tidur,kadang hanya tidur dua kali seminggu." 

Setelah semua kegilaan ini,Paman Kumar mengadopsiku.Natalie akhirnya sembuh sepenuhnya.Aelita diberikan bimbingan dari polisi.Orangtuanya kembali mengakuinya sebagai anak("Maaf,Nak,Ayah khilaf!").Kami semua direhabilitasi.Kami dibebaskan lebih cepat karena berkelakuan baik,kecuali Remi yang kudengar dihajar lagi karena mencuri barang milik seorang tahanan.Vio dan Fione juga belum keluar,karena masa tahanan mereka lebih lama.

Rein dan aku meneruskan usaha toko roti Ayah yang berkembang pesat.Natalie menjadi psikolog ternama,sementara Coklat Belgia-maksudku Aelita-menjadi motivator(Tapi Fanya masih sering membuatnya kesal dengan memanggilnya Coklat Belgia).Artria mengejar karir di kepolisian.Fanya menjadi pemilik butik pakaian.Agnes dan Caitlyn membuka toko serbaada yang disukai masyarakat karena harganya murah.Cathy menjadi desainer busana pesta.Si kembar Leslie dan Lesley menjadi manajer proyek."Oi,Putri Biru,"sahutku,"Nih,roti abonnya." Rein tersenyum dan menjawab,"Putri Biru? Siapa tuh?" Aku tertawa mendengar jawabannya.

Usaha kami semua makin sukses.Rein dan aku membuka banyak cabang toko roti,bahkan sampai ke luar negeri.Kami sudah tidak memedulikan masa lalu kami yang kelam.Hanya saja,kami berdua masih punya masing-masing satu pengingat:Rein punya luka sayat di bawah leher,sementara punyaku di perut.Luka-luka itu menjadi pengingat bahwa kami,dulunya,adalah remaja kriminal kurang ajar.























Rabu, 18 Juli 2018

Kematian Tragis karena Narkotika

Di Kota Jakarta yang ramai,semuanya bisa terjadi.Termasuk di sekolah Mutiara Bangsa,sekolah swasta unggulan.Di antara sekian banyak murid,ada satu orang yang paling menonjol.Seira Bell,siswa kelas 8A,menguasai ranking teratas selama 2 tahun di SMP tanpa tergoyahkan sedikit pun.Namun,semuanya berubah sejak ia berteman dengan Cathy King,kelas 8I.Cathy tergolong nakal,dan nyaris tidak naik kelas tahun lalu.Teman-teman Seira berusaha menjauhkannya."Seira,kurasa tidak baik berteman dengan Cathy,"kata Gilbert."Betul itu.Bahkan rumornya,dia ketahuan bawa narkoba ke sekolah,"timpal Maya."Kalian tenang saja,dia bukan orang jahat kok,"balas Seira.Dua bulan kemudian,datanglah UTS.Seperti biasa,Seira agak pucat.Rambut perak alaminya rontok sedikit."Seira,bagaimana kabarmu? Aku mau bicara sebentar,tapi jangan di sini.Ayo kita ke tempat yang agak sepi,"sapa Cathy saat ulangan hari pertama selesai."Oke,tapi jangan kelamaan,"ucap Seira.Mereka berdua pergi ke perpustakaan yang sepi."Seira,aku tahu kau stres.Aku tahu kau selalu merasa tertekan oleh orangtuamu yang selalu ingin kamu dapat ranking 1,"kata Cathy tiba-tiba."Bagaimana kau bisa tahu?"tanya Seira yang terkejut.Cathy tidak menjawabnya sama sekali.Tangan kirinya menggerai rambut merah muda miliknya,sementara tangan kanannya merogoh sesuatu dalam kantongnya.Sebuah pil yang ia berikan pada Seira."Jangan bilang ini narkoba,"kata Seira yang kaget.Rupanya rumor itu benar."Jangan bilang siapa siapa,ok?"kata Cathy sambil tersenyum.Sejak itulah kehidupannya hancur.Tidak hanya narkoba,Seira mulai mengenal miras dan rokok.Ia juga berteman dengan sesama pecandu:Angel dan Michiko.Angel adalah anak berandalan,dan saat ia ditawari narkoba,ia langsung menerimanya.Sebaliknya,Michiko adalah anak pemilik bisnis makanan instan yang kaya,tapi tumbuh tanpa kasih sayang karena kesibukan orangtuanya.Alhasil,ia memilih lari ke narkoba.

Sementara itu,kecurigaan orangtua Seira mulai muncul.Ditambah lagi,mereka menemukan serbuk putih di dalam kamar Seira.Serbuk yang oleh Seira dia sebut garam untuk eksperimen IPA,padahal sebenarnya narkoba.Meskipun pada dasarnya mereka agak cuek dan hanya peduli pada bisnis farmasi yang mereka miliki,mereka menyadari perubahan sikap Seira yang jadi kasar,bau alkohol yang tercium darinya,dan nilainya yang terus menurun."Nak,kenapa nilai mu jadi seperti ini,jangan bohong lagi.Ibu tahu kamu minum miras,kan? Ibu juga menemukan rokok,dan Ibu yakin serbuk putih itu bukan garam,"kata Ibu Seira yang masuk ke kamar putrinya."Ya! Memang benar! Aku perokok,pemabuk,dan pecandu narkoba! Lalu kenapa?"bentak Seira sambil pergi keluar kamar.Ia hendak pergi ke tempat yang dikenalkan Cathy:tempat judi.Ia mengenakan baju hijau pucat yang ukurannya kekecilan dan rok hitam sedikit di atas lutut."Seira Landeve Bell! Mau kemana dengan pakaian seperti itu? Apakah kamu mau kehilangan martabatmu sebagai perempuan?"gelegar Ibunya,yang yakin seratus persen tempat yang akan dikunjungi putrinya bukan tempat yang baik.Teriakan itu dianggap angin lalu oleh Seira.

"Seira,kamu belum mau pulang?"tanya Angel.Mereka sudah pergi ke sebuah bar."Malas.Paling kena marah lagi.Kalian pulang dulu saja,"jawab Seira.Itu jam 12 malam."Oke,"kata Cathy."Kami pulang dulu.Jangan kelamaan,kadang ada razia,"lanjut Michiko.Seira mengangguk.Ia benar-benar mabuk berat.Sial,jam 3 pagi,polisi melakukan razia."Dek? Dek? Masih mabuk?"tanya seorang polwan.Ia sudah di kantor polisi."Mm..Ya,"gumam Seira."Lain kali jangan lagi ya,"lanjutnya.Ia diantar pulang.Sesampai di rumah,ia dimarahi habis-habisan.Ia merencanakan untuk minggat,tetapi hatinya masih bimbang dan ragu.

Seira dan kelasnya sedang mengikuti pelajaran IPA.Seira sedang hampir mengalami sakaw,yaitu kondisi dimana seorang pecandu narkoba tidak mengonsumsinya dalam waktu tertentu.Ia gelisah dan pucat.Sulit mendapat izin Bu Erna."Sei,kamu tidak apa-apa?"tanya Nana,teman sebangkunya.Seira menggeleng."Bu,bolehkah saya izin ke toilet?" "Boleh sekali ini."

Seira cepat-cepat ke toilet dan mengeluarkan sebuah pil.Ia menelannya."Sei,Sei,hebat sekali kamu." "Cathy!" "Pintu digerendel lah.Ketahuan,gawat," Cathy mengerendel pintunya.Ia mengeluarkan sebungkus rokok."Sei.Kabur sajalah dari rumahmu," "Eh? Lalu aku jadi gelandangan,gitu?" "Ya enggak lah." "Sebenarnya,Cathy,kamu ini siapa?" "Aku dikirim ke sini oleh Bos-ku..untuk memengaruhi orang sepertimu gitulah." "Yah,tidak masalah.Pergi ke diskotik,bar,atau kasino lebih menyenangkan daripada pergi ke les.Aku tidak peduli mau dikatai apa." "Nah.Minggatlah.Kita bisa urus bisnis narkoba kita dengan lebih mudah.Kau tahu,bisnis ini paling menguntungkan." "Yah,tapi.." "Dengar Seira.Meski kau bertobat sekarang pun,kamu selamanya dicap buruk.Kalau orangtuamu tahu,apa yang akan mereka lakukan? Mengirimmu ke pusat rehabilitasi? Atau mungkin mereka akan membuangmu?" Seira terdiam. "Seira..Aku..Aku menyukaimu." "M..maksudmu?" "Benar.Aku....tidak normal." "Kenapa?" "Itu terjadi 2 tahun yang lalu..saat aku berumur 13.Aku sedang jalan-jalan dengan pacarku.Tiba-tiba beberapa orang mencoba menyekapku.Belakangan aku tahu mereka sindikat penjualan organ manusia.Untungnya beberapa polisi datang menyelamatkanku.Aku sangat trauma.Sejak itulah." "Ooh...." Cathy tersenyum kecil sambil berkata,"Tidak apa-apa,toh itu sudah berlalu." "Si bodoh ini benar-benar percaya cerita karangan absurd tadi rupanya,"batin Cathy."Dobrak!"

Gebrak! Gebrak! Pintu itu rusak.Beberapa guru perempuan masuk dan membawa mereka ke ruang BK.Untung mereka tidak melihat narkoba yang mereka bawa.Seira dikenai skors 3 hari."Sudah cukup,Seira! Sudah cukup! Pikirkan masa depanmu!"bentak Pak Bell."Seira,berhentilah berbuat aneh-aneh.Kalau tidak,Ibu akan mengirimmu ke panti rehabilitasi!"ancam Bu Bell.Sebetulnya itu ancaman kosong.Pak Bell dan istrinya tak sampai hati mengirimkan putrinya ke panti rehabilitasi."Aku tidak peduli! Lebih baik aku pergi ke diskotik daripada mendengar ocehan kalian!"teriak Seira sambil membanting pintu.Di balik pintu itu,sesosok ibu menangis melihat kelakuan putrinya.

Seira minum berbotol-botol.Ekstasi dan sabu pun tidak lepas dari genggamannya.Bahkan saat ia nyaris tak sadar pun,ia masih meminta lagi,lagi,dan lagi."Uh..kamu yakin bisa pulang nanti?"tanya si pembuat minuman.Pertanyaan itu tidak dijawab.Seira sudah terlalu mabuk.Diskotik itu sudah mau tutup,jadi si pembuat minuman membawanya pulang.Batas kesabaran Pak dan Bu Bell mulai habis.

"Dokter,bagaimana kondisi anak saya?"tanya Pak Bell kepada Dr.Reyfandi.Ia adalah seorang dokter tersohor yang menemukan beberapa jenis obat baru.Kebetulan,ia merupakan kawan dekat Pak Bell.Jadi,ia bersedia menolong."Hmm...detak jantungnya tidak normal,"kata Dr.Reyfandi."Kenapa bisa begitu?" "Peralatan yang kubawa tidak cukup mutakhir,tapi sepertinya ia mengonsumsi narkoba jenis stimulan." 

Setelah adu mulut hebat lainnya,Seira memutuskan untuk minggat dari rumah itu.

Untuk menjalankan rencana edan tersebut,ia telah membuat rancangan untuk mencuri barang berharga.Cathy,Angel,dan Michiko telah setuju untuk membantunya mencuri dan menjual semua barang di pasar gelap,dengan imbalan sepuluh persen dari hasilnya."Tapi,tinggal di mana aku nanti?"tanya Seira saat membahas rencana minggat tersebut."Gampang,tinggal bersama kami saja,"jawab Michiko ."Kami tinggal dengan Bos Jack.Dia yang mengatur peredaran narkoba di daerah ini,"lanjut Angel."Dia juga sudah setuju tentang kamu tinggal di rumahnya.Toh,kamu sudah membantunya mengedarkan barang miliknya,"timpal Cathy."Boleh juga.Makasih,"jawab Seira.Satu minggu kemudian,datang kesempatan sempurna.Ibu Seira memasak sup ikan,tapi Seira alergi ikan.Jadi,ia bisa menaruh obat  tidur di dalam sup tersebut.Selesai makan malam pukul 7,seisi keluarga langsung tertidur satu jam setelahnya.Seira membukakan pintu untuk teman-temannya.Mereka mencuri jam tangan,perhiasan,dan lain-lain.Pokoknya apapun yang terlihat mahal."Nih,bagianmu 900 juta."ujar Angel sambil menyerahkan sekoper uang kepada Seira.Total penjualannya mencapai 1 miliar.Tak terasa,1 tahun sudah berlalu.Seira dan teman-temannya sudah berusia 15 tahun dan tidak sekolah lagi.

2,5 tahun kemudian,polisi  mengadakan operasi anti narkoba.Sejumlah bawahan Bos Jack sudah
 ditangkap.Bos besar di Jakarta tinggal Bos Jack.Sementara itu,banyak bandar yang tertangkap dan dijebloskan ke penjara.Sisanya antara bawahan Bos Jack atau pengedar kecil.Celah ini yang dimanfaatkan polisi untuk
menjatuhkan bandar besar terakhir.Ayah dan Ibu Seira terlibat.Polisi berniat memancing Seira dengan
 berita kematian orangtuanya  dan ia masih mendapat warisan.Seira,dengan ditemani
Cathy,Angel,dan Michiko,pergi ke rumah yang telah ditunjukkan."Angkat tangan,kalian sudah terkepung!"teriak seorang polisi.Tapi Seira  dan teman-temannya lebih cerdik.Mereka sudah tahu akan diperangkap,Jadi mereka sudah menyiapkan jebakan.Bawahan Bos Jack menyerbu masuk.Polisi yang tidak siap langsung kalah.Akan tetapi,pada akhirnya polisi melacak markas mereka.Polisi menemui perlawanan sengit.

"Boom!"suara granat menghancurkan tangan kanan Angel.Cathy mengisi pistolnya dan menembak seorang polisi.Peluru berterbangan di mana-mana."Urghh,"teriak Michiko saat peluru menembus jantungnya."Sei,kita harus pergi,"bisik Cathy.Seira mengganguk walau sibuk menembaki polisi.Mereka kabur lewat pintu belakang.

Seira dan Cathy memulai bisnisnya lagi.Makin lama,usahanya berkembang selama 2 tahun dan mereka menjadi Bos.Akan tetapi,mereka makin diincar polisi.Namun,bisnis terus
berkembang.Mereka makin membenci polisi.Tapi,mereka tidak menyadari pihak lain yang juga membenci mereka.

Mereka memperluas bisnis hingga daerah lain,yang menyebabkan Bos setempat sangat marah.Namanya adalah Caroline,tapi itu pun hanya nama palsu.Nama aslinya tidak pernah diketahui.Terjadi kerusuhan kecil.Namun,tiga bulan kemudian terjadi baku tembak.Sekelompok pengedar yang memiliki gudang besar menyerah kepada polisi.Polisi lalu hendak menyita isi gudang tersebut.Kedua pihak Bos Besar kini berminat merebut gudang tersebut.Setelah pertempuran berdarah selama 8 jam,polisi terpaksa mundur.Semua pihak telah kehilangan banyak pasukan.Diam-diam,sekelompok bawahan Seira mengambil isi gudang besar tersebut.Setelah misi selesai,pasukan Seira dan Cathy langsung mundur.Caroline dan seseorang berjaket hitam mengejar kedua musuh mereka.Caroline menembak Cathy,yang dibalas dengan tembakan Seira kepada si jaket hitam.Seira dan Caroline berduel.Peluru mereka akhirnya habis.Caroline menarik dua pisau panjang.Seira membalas dengan sebuah pedang panjang."Menyerah sajalah,Seira!Aku tidak pernah kalah dalam
duel senjata tajam seperti ini!"teriak Caroline.Seira melompat dan menebas ke depan,tapi berhasil dihindari.
.Setelah duel nekat tersebut,Seira kehilangan pedangnya.Lehernya tertebas dan mengalami pendarahan  parah."Tadi itu hebat,Seira.Kurasa kau layak mengetahui nama asliku,Michelle!"teriak Caroline yang memiliki nama asli Michelle.Detik selanjutnya,Seira menarik pisau yang ia sembunyikan dan
menusuk jantung Michelle.Michelle meninggal seketika.Namun,Seira masih melihat sekilas rambut biru yang persis rambut Michelle sebelum ia sendiri pingsan.

Dan ia dibangunkan dengan cara kejam:dicambuk.Dan si pencambuk adalah Maya!Cathy terbaring disampingnya."Bangun,Seira b******k!"teriak Maya."Michelle tewas karena kalian!"teriaknya lagi.Hari itu,teriakan dan erangan Seira dan Cathy terdengar jelas di tempat antah-berantah itu.Mereka kelaparan dan kehausan dan mengalami efek tidak mengonsumsi narkoba."Apa yang kamu inginkan?Uang? Kami bisa berikan kamu uang!"kata Cathy."Kalian mengingatkanku pada saudari sepupuku yang lain.Dia gila harta dan menjadi pembunuh bayaran.Kalian semua sama saja,maniak harta!"kata Maya sambil mengayunkan sebuah kawat besi.

Tapi akhirnya,seorang polisi yang kebetulan lewat disitu,melihatnya.Polisi datang dan menangkap ketiganya.Seira,dengan segala tipu muslihatnya,berhasil kabur setelah 3 hari.Namun ia pingsan karena kelelahan.Ia bertemu seseorang yang merawatnya."Uh,kamu siapa?"tanya Seira."Aku Natalie.Panggil saja Natz,"jawab si orang asing.Setelah beberapa hari,tanpa pemimpin,jaringan narkotika di Jakarta dan Bandung hancur berantakan."Aku harus pulang."kata Seira,yang khawatir akan dilaporkan jika Natz tahu ia pecandu.""Tenanglah."kata Natz,seraya memberikan beberapa pil narkoba kepada Seira.Tiba tiba Seira mengingat sebuah poster.Jelas wajah Natz dan  rambut merah cerahnya terpampang,dengan tulisan dicari.Sementara itu,Cathy tak tinggal diam.Ia juga berhasil kabur,dan melihat Seira dan Natz.Ia merasa ada yang aneh dan mencuri selembar kertas yang dia rasa mencurigakan.

Seira diperlakukan dengan sangat baik hingga ia mempercayai Natz.Tapi Cathy menemukan hal lain.Ia menemukan rencana rahasia Natz,yaitu membunuh Seira,atas perintah seorang sosok misterius dengan bayaran ratusan juta rupiah."Apakah Natz saudari sepupu Maya yang ia ceritakan dulu?"gumam Cathy pada dirinya sendiri.Cathy mendobrak rumah Natz dan membuatnya pingsan."Cathy,apa yang kamu lakukan?"tanya Seira kebingungan."Cepat,kita harus pergi secepat mungkin,"jawab Cathy sambil menyerahkan kertas yang ia temukan.Namun polisi menemukan mereka.Mereka tertangkap.

Seira memandangi ruangan selnya.Hanya berukuran 2 kali 1,5 meter,dengan sebuah kasur tipis dan sebuah kakus."Ini makanannya."kata seorang penjaga sambil menyerahkan sebuah mangkuk nasi,semangkuk kecil sup jagung,dan dua potong tempe bacem yang tidak tampak menggugah selera.Seira menghela napas,dan mengambil sepotong tempe,dan memakannya.Ia langsung memuntahkannya."Makanan jangan dibuang-buang,Seira Landeve Bell."kata penjaga tadi.Seira menatap wajahnya,dan langsung setengah berteriak,"Gilbert!".Tapi Gilbert,teman sekelasnya,tidak mendengarnya karena dia sudah pergi.Beberapa hari kemudian,Seira terkena demam.

Demamnya nyaris mencapai 40 derajat celcius,tapi sudah membaik.Ia sedang menyantap semangkuk bubur,ketika ada tamu tak diinginkan datang.Natalie."Apa maumu?"tanya Seira tanpa basa-basi."Ikuti aku dan aku akan membawamu pergi dari sini,"jawab Natz.Seira nyaris tidak bisa menyembunyikan kekagetannya."Kau menipuku,dan sekarang kau datang dengan omong kosong,"kata Seira."Seira,jangan menipu diri sendiri.Kau tidak ingin berada di sini sampai dibebaskan.Aku tahu itu,"kata Natz."Kau ingin membunuhku,"kata Seira."Kuakui itu benar.Tapi tugasku adalah membawamu,hidup atau mati,kepada bosku.Jadi,kalau kau mau dengan sukarela ikut,aku akan minta pada bosku agar tidak membunuhmu." Seira menggeleng sambil berkata,"Enyahlah." Natz menggeram kesal,tapi dia juga tidak beranjak pergi."Selamat.Aku sudah punya bukti kau dan Cathy mengkhianati bosmu,"ancam Natz."Bos apa? Aku tidak punya bos,"kata Seira."Hmph.Mungkin bukan bosmu,tapi bos Cathy.Tidak kau sangka,ya?"jelas Natz sambil menyeringai.

Tanpa diduga,Seira merebut HP Natz dan membantingnya sekuat tenaga.HP itu rusak berkeping-keping.Natz mengeluarkan sebuah jarum suntik,dan membius Seira dengan obat bius di dalam jarum tersebut."Kau mau melawan,ya.Tindakan yang bodoh." Natz membawa Seira ke kamar penyiksaan miliknya."Kamu mau menyiksaku,kan?"tanya Seira saat sudah bangun."Menurutmu?"tanya Natz.Seira menghela napas sambil mengumpat dalam hati.Tiba-tiba ia melihat seseorang dan berteriak,"Gilbert!",namun tidak dihiraukan.Natz mengeluarkan sisi gelapnya yang bahkan jauh lebih parah dari Maya.Darahnya berceceran di mana-dimana."Ini belum apa-apa,Seira.

Tiga hari kemudian,Seira sudah berada dalam kondisi nyaris meninggal.Gilbert ternyata bekerja sama dengan Natz,yang memungkinkan Natz untuk masuk dan keluar RS dengan mudah.Tapi,Gilbert sendiri juga tak kuasa melihat kekejaman Natz."Aku mau pergi beli camilan sebentar,"kata Gilbert."Aku titip kue cubit seporsi,"teriak Natz.Gilbert lari ke kantor polisi,dan Seira kembali ke rumah sakit,sementara Natz masuk rumah sakit jiwa.

3 bulan kemudian,Seira kabur lagi.Ia kehilangan semua hartanya.Ia terpaksa menjual diri demi memenuhi kebutuhannya akan narkoba.Ia mengontrak kosan.Pemiliknya,Kana,membiarkannya tinggal cuma-cuma."Dulu,waktu kau dan adikku Cathy masih menjadi bos narkoba,Cathy pernah memberiku beberapa kilo narkoba.Itu sudah kuanggap pembayarannya." Seira memicingkan mata setelah membaca surat itu.Seingatnya,tidak ada kejadian kiloan narkoba hilang begitu saja."Ah,buat apa aku peduli.Baguslah kalau gratis!"Di situ,ia tidak perlu khawatir ketahuan karena kosan itu sendiri salah satu tempat peredaran narkoba.Temannya-Cathy-hilang entah ke mana.Gaya hidupnya jadi semakin kacau.Di kalangan para bejat,ia menjadi favorit,separuh karena dia tidak peduli ia diapakan selama ia dibayar,dan separuhnya lagi karena wajahnya yang rupawan.Alat dandan untuk memikat pelanggan selalu siap sedia di dalam laci.Setiap malam,ia mendandani dirinya sendiri dan menggerai rambut peraknya,sambil memakai pakaian yang terbuka.

Ia juga bertemu dua saudara kembar,Lesley dan Leslie,yang menghuni kosan itu juga.Ia juga berteman dengan Lascrea."Seira,kenapa kamu melakukan ini?"tanya Lascrea."Aku kecanduan narkoba.Bagaimana denganmu?"Seira bertanya balik."Aku hanya anak jalanan....Lalu seseorang bernama Kana menawariku pekerjaan yang 'mudah'.Ia memberikanku beberapa setel pakaian.Dan,yah,begitulah,"jawabnya."Kana? Bukankah itu kakaknya Cathy?"batin Seira."Tapi ini bukan pekerjaanku satu-satunya,kok,"lanjut Lascrea,"biar kutunjukkan."Mereka berdua menuju ke toilet umum.

"Lama sekali,Lascrea,"kata seseorang."Maaf,Kana,"kata Lascrea."Yasudah,mana barangnya?"tanya Kana.Ia meny odorkan sebuah baskom."Seira?! Sedang apa kamu disini?"tanya Kana."Mana Cathy?"tanya Seira balik.Kana menggeleng sambil berkata,"dia hilang." Sementara itu,Lascrea menggelitik tenggorokannya sendiri.Ia muntah.Di antara muntahan Lascrea ada banyak kantong balon kecil.Seira tahu persis apa itu.Cara membawa narkoba yang menurutnya paling edan tapi bayarannya tinggi.Lascrea pasti sedang melakukannya."17,18,19,20,21,...masih kurang.Harusnya ada 30.'Lascrea menghela napas dan muntah lagi."Nah.Begitu baru pas,"kata Kana.Ia menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah.

Seira dan Lascrea sudah pergi dari toilet itu."Lascrea,dua ratus ribu untuk pekerjaan itu...." Lascrea menghela napas."Apa boleh buat.Kana adalah satu dari dua bos di sini.Semuanya diwajibkan membayar padanya.Aku tidak tahu telah ditipu begitu.Dia mengancamku,aku akan diusir dan dilaporkan.Jadi karena aku tidak bisa bayar,jadi,yah...." "Aku tidak bayar,tuh...."kata Seira."Kau itu partnernya adiknya Kana,kan? Pengecualian mungkin,"kata Lascrea.Telepon genggamnya berdering."Ya,Leslie?" "Hotel Majaraya? Oke-oke."Lascrea menutup telefonnya,"Aku harus pergi," Seira mengganguk dan Lascrea pun pergi.Seira kesal.Ia sendiri belum dapat pembeli.Padahal,ia yang paling laku biasanya."Sial...."umpatnya.Ia mengeluarkan foto dirinya sendiri saat SD kelas 5.Saat itu ia memenangi lomba OSN provinsi."Seharusnya aku tidak pernah pergi dari rumah itu."

"Seira!"panggil seseorang."Ya?"tanya Seira.Orang itu adalah Nana."Nana! Kenapa kau di sini?"tanyanya."Aku yang harus bertanya begitu.Apakah kamu salah satu dari 'mereka'?"tanya Nana balik.Seira mengganguk pelan."Seira....kau membuang harga dirimu sendiri?"tanya Nana."Aku sudah membuangnya sejak lama."jawab Seira."Semuanya mengkhawatirkanmu,bodoh.Bayangkan apa kata orangtuamu.Ikutlah denganku."ajak Nana.Seira menggeleng sambil berkata,"Jangan buang waktumu untukku,Nana.Aku sudah jatuh terlalu dalam." Nana tidak menyerah."Aku ingat saat itu,Seira.Kamu memenangi lomba olimpiade.Satu sekolah sangat bangga.Tapi lihat dirimu sekarang.Hanya jadi tempat pelampiasan nafsu sesaat.Bukankah itu menyedihkan?"lanjutnya dengan nada persuasif.Seira menggeleng."Tapi kau malah merusak diri sendiri.Jangan bodoh,Seira,"lanjutnya.Seira terdiam.Tidak bisa berucap lagi."Seira!"teriak seseorang."Kak Shizuka? Ada apa?"tanya Seira."Orang yang dipanggil Shizuka itu menghampiri dan menatap Nana sambil berkata,"Oh,kamu sudah dapat pelanggan rupanya." Habis sudah kesabaran Nana.Matanya berkilat menunjukan kemarahan.Tapi belum sempat ia berucap,Shizuka melanjutkan,"Eh,tapi aku tidak pernah melihatmu.Yah,kau beruntung bisa mendapatkan Seira.Dia salah satu yang paling populer di sini,loh." Nana terlihat ingin sekali mengamuk mendengarnya.Tapi ia masih menahan amarahnya."Baiklah,Seira.Karena kamu sibuk dengan pria-pria itu,aku pergi dulu,"katanya dengan nada sarkatis sambil beranjak pergi.Tapi sebelumnya dia masih sempat menoleh dan berkata kepada Shizuka,"Dan kau,aku tidak peduli kau siapa,tapi aku tidak sudi berurusan dengan bisnis jual-beli tubuh sepertimu."Nana pun pergi."Ah,sayang sekali.Padahal dia cantik loh,"gumam Shizuka."Tadi kenapa,Kak Shizuka?"tanya Seira memecah gumaman Shizuka."Ada yang ingin menyewa kita."

Hotel Majaraya.Hotel bintang empat yang dikenal karena reputasi buruknya.Seira sendiri sering dibawa ke sana."Selamat malam.Pesan kamar apa?"sapa resepsionis hotel itu."Kamar untuk tiga orang,satu malam." "Maaf,berdasarkan aturan,Anda harus terlebih dahulu membuktikan hubungan keluarga.Kecuali itu,laki-laki dan perempuan dilarang satu kamar,"ujar si resepsionis.Shizuka mengedipkan mata.Resepsionis itu memahami artinya dan menyerahkan sebuah kunci.

Malam itu,ia baru selesai melayani pelanggan itu ketika Lesley menelefon.Shizuka sudah pulang."Seira,ada orang ingin bertemu denganmu.Di hotel tempatmu sekarang,ruang 139."kata Lesley."Siapa?"tanya Seira."Entahlah,dia bilang namanya Freya.Mungkin dia ingin menyewamu? Dia memintamu cepat-cepat datang,"jawab Lesley.Seira langsung pergi ke kamar 139.Ia teringat kakak sepupunya yang tinggal bersama keluarganya yang juga bernama Freya.Ia kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan dan menjadi kakak angkat Seira.Seira mengetuk pintu dan langsung masuk.Di dalamnya ada seseorang yang menutupi mukanya dengan tudung hitam."Siapa juga yang memakai pakaian jubah hitam begitu? Dasar kurang kerjaan,"pikir Seira.Ia langsung membuka jaketnya."Jadi ini Seira?"kata si orang tak dikenal.Seira mengenali suara itu."Kau...Kak Freya?"tanya Seira.Orang itu membuka tudungnya dan mengangguk."Kakak sedang apa disini?"tanya Seira."Aku melakukan hal yang sama denganmu."jawab Freya.

Flashback 
"Freya! Kenapa pulang malam lagi?!"tanya Bu Bell saat anak angkatnya,Freya Casille Bell,pulang jam 12 malam."Aku pacaran dengan pacarku,"jawab Freya cuek."Pacaran terus! Sejak kamu pacaran,nilaimu turun terus!"kata Bu Bell."Jangan mengekangku,Bu!"bentak Freya."Aku paham sekarang kenapa Seira pergi,"lanjutnya.Ia pergi meninggalkan rumah itu.Keluarga Bell telah kehilangan kedua putrinya.
Kembali ke masa sekarang

Seira menatapnya tidak percaya."Tidak percaya?Lihat saja sendiri,"kata Freya.Freya membuka tasnya yang berisi macam-macam barang.Rokok,pil narkoba,dan entah apalagi."Lalu buat apa kakak kesini?"tanya Seira."Ini love hotel,bodoh.Aku ingin melakukan apa yang biasa dilakukan di sini,"jawab Freya sambil membuka jaketnya,"denganmu.""Tapi kita masih saudara dekat,"kata Seira."Tenang saja,"kata Freya."Bukankah Cathy sudah meninggalkanmu? Memangnya kau punya kerjaan apa lagi,sih? Temanmu saja meninggalkanmu,"Seira memandangi mata kakaknya."Memang benar,"batin Seira,"Cathy tidak pernah datang saat aku membutuhkannya.""Kau mau melakukannya dengan orang asing,tapi tidak mau melakukannya dengan kakakmu sendiri?"tanya Freya untuk mempengaruhi adiknya itu.Tapi Seira tetap menggeleng.Freya mulai kesal.Ia membanting bundelan uang di atas kasur."Kau membutuhkannya,iya,kan,adikku tersayang?"tanya Freya.Seira menatap bundelan itu dan menjawab,"Baiklah...." Freya menyeringai."Terlalu mudah.Sebentar lagi dia akan memberikan bayaranku,setelah kubawa Seira padanya."

Masalahnya,resminya itu hotel biasa.Karena reputasi buruknya,polisi sering merazia tempat itu.Saat itu jam 12 malam."Ini ruangannya?"tanya seorang sersan."Benar,pak,"jawab Leslie dan Lesley serempak."Hebat.Kita cuma mau melakukan razia,tapi malah menemukan mereka,"kata seorang sersan lainnya."Cepatlah pak,kedua putriku ada di dalam,"kata Bu Bell."Tenang saja Bu.Kami akan melakukan ini dengan cepat,"kata salah satu sersan,sementara sersan yang lain mencoba membuka pintu yang terkunci.Sementara itu,di dalam ruangan,Seira dan Freya tidak mendengar suara-suara di luar,karena ruangan itu sepenuhnya kedap suara.

Si sersan berhasil mendobrak pintu dengan sekali dobrak.Freya dengan refleks langsung menutupi dirinya dan Seira dengan selembar selimut.Kedua sersan dan orangtua mereka memasuki ruangan itu.Pak dan Bu Bell menampilkan ekspresi senang,sedih,marah,sekaligus malu.Senang karena bisa bertemu kedua putrinya,sedih karena melihat keadaan mereka,marah karena mereka terjerumus hal-hal ilegal,dan malu karena sekarang melihat putrinya tanpa busana.Mereka cepat-cepat memakai baju,dan diborgol polisi.Melihat orangtua mereka,Freya menundukkan kepalanya,dan Seira hampir menangis.

Mereka berdua dihukum 30 tahun penjara.Penjara itu selnya sangat sempit,hanya 2,5 meter kali 2,5 setengah meter untuk dua orang.Sering terjadi mati listrik."Hhh..mati listrik lagi ya."keluh Seira."Ini sudah keempat kalinya bulan ini."kata Freya."Makanya kalo usaha itu yang bener.Jadi dokter kek,jadi guru kek,ini udah masih muda malah make narkoba,sia-sia kan malah masuk penjara."ejek seorang penjaga sambil memberikan  makanan.Sepotong roti tawar dan segelas kecil susu per orang."Eh,tumben ada susu.Anaknya kepala sipir mau nikah apa?"tanya Seira."Kalian belum tahu,ya? Sebagian narapidana disini akan dipindahkan ke lapas lain.Makanya dia lagi seneng.Kalo enggak mah,dikasih makan dua kali sehari udah bagus."jawab si penjaga.Memang benar.Bisa makan dua kali sehari saja sudah bagus.Biasanya hanya sekali."Apa kami akan dipindahkan?"tanya Freya?Si penjaga melihat kanan-kiri,dan berbisik,"Kurasa tidak,karena katanya napi tingkat tinggi akan tetap disini." Cara membedakan napi kelas kakap dan teri cukup mudah.Kalau selnya terisolir dan kakinya diborgol,artinya napi kelas kakap.Si penjaga pergi.

"Kita harus kabur,"bisik Freya pada adiknya,"Aku tidak mau disini." Seira mengangguk pelan.Tempat selnya dulu jauh lebih baik.Setidaknya dia mendapat makanan yang layak.Sekarang,makanannya selalu makanan yang nyaris kadaluarsa.Roti yang kerasnya minta ampun,air yang rasanya persis air mentah,hingga mi yang hampir tidak bisa dikunyah."Tapi bagaimana?"tanya Seira sambil mengunyah-lebih tepatnya mencoba mengunyah-rotinya."Kita suap saja penjaga tadi,"jawab Freya."Suap bagaimana? Aku saja menjual diri untuk hidup.Kau tahu apa yang mereka katakan tentangku? Mereka memberiku julukan 'Si Perak Serba Guna',"kata Seira."Bingo.Kita bisa menyuapnya dengan itu." "Kalau begitu kakak juga harus melakukannya denganku,"kata Seira."Iya,iya.Tidak mungkin aku membiarkanmu melakukannya sendiri,"kata Freya.

Malam itu juga,saat Freya sedang tertidur cukup pulas,Seira menangis terisak-isak sambil menyesali perbuatannya dulu.Isakannya itu terdengar tahanan di sampingnya."Hei,kenapa kamu menangis?"tanyanya."Siapa kamu?"tanya Seira balik."Namaku Alice,"jawabnya.Seira dan Alice bercakap-cakap sejenak,sampai Seira melontarkan pertanyaan,"Kenapa kamu ditahan disini?" Alice terdiam sejenak.Terbersit keraguan di hatinya."Aku dan saudara kembar laki-lakiku,Lance,adalah penyelundup.Berlian,permata,hewan langka,hingga narkoba sekalipun kami selundupkan asalkan kami dibayar.Suatu saat,Lance tertangkap,dan untuk mengurangi hukumannya sendiri dia melaporkanku,"jawabnya."Kalau kamu?"tanya Alice."Yah,kehidupanku hancur lebur.Aku menjadi ketergantungan narkoba dan bahkan jadi pengedar narkoba.Karena itu,aku jadi buron.Aku disiksa pengedar narkoba lain,diselamatkan,masuk penjara,kabur,dan disiksa lagi oleh psikopat absurd.Aku menjadi perempuan bayaran,lalu terpergok mesum dengan kakakku sendiri yang sedang tidur di sini,lalu berakhir di sini,"jawab Seira."Dan yang paling memalukan adalah fakta bahwa orangtua kami yang memergoki kami,"lanjutnya."Apa yang akan kamu lakukan jika bisa keluar dari sini?"tanya Alice."Yang pasti,meminta maaf pada orangtuaku.Bagaimana denganmu sendiri?" "Kurasa aku akan hidup baik-baik seorang diri.Orangtuaku menelantarkanku dan Lance saat kami masih bayi." 

"Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang melukai hatimu sendiri?"tanya Alice."Terlalu sering,"jawab Seira."Ada satu kejadian yang mengusikku sampai sekarang,"kata Alice.Ia mengambil napas sejenak."Lance dan aku pernah menyelundupkan dua orang anak berumur 6 tahun.Kami mengikat tangan dan kaki mereka,lalu ia dimasukkan ke dalam kapal,"cerita Alice,"Entahlah apa yang terjadi padanya." "Bukannya membuatmu risau,tapi kemungkinan besar klienmu adalah sindikat perbudakan anak atau penjualan organ." Alice terisak-isak mendengarnya."Di dunia gelap kita,manusia seringkali bernilai lebih rendah dari uang,"kata Seira."Aku tahu.Dengan uang,orang bahkan bisa membeli budak di pasar gelap." "Alice,kurasa ini adalah kali terakhir kita bertemu,"kata Seira."Kamu bercanda? Hukumanku 10 tahun,dan aku yakin hukumanmu lebih berat,"kata Alice."Ya,30 tahun.Tapi aku tidak sudi mendekam di sini selama itu,"ucap Seira."Hukumanmu tiga kali lipat hukumanku.Yah,aku sudah menjalani dua tahun,dan kurasa aku akan tetap di sini.Jika kamu mau kabur-dan aku yakin kamu mau kabur-semoga beruntung." Setelah itu,Alice dan Seira tertidur.

Dua hari kemudian,pemindahan pun dilakukan.Semua penjaga sedang sibuk,jadi penjagaan relatif lebih lemah.Penjaga itu-Pak Dono-mendatangi mereka.Seira dan Freya bangkit.Ini satu-satunya harapan mereka.Pak Dono membuka borgol dan pintu penjara.Seira dan Freya memandang satu sama lain.Mereka belum melakukan apa-apa.Ia membawa mereka ke suatu hutan tidak jauh dari penjara itu.

"Kenapa?"tanya Seira."Aku dibayar untuk ini."jawabnya singkat."Lumayan juga kerjamu."Natz yang mengucapkannya.Ia membius keduanya."Saatnya bersenang senang,"gumamnya.

Freya diikat ke dinding sementara Natz membereskan urusannya dengan Seira."Natz,polisi akan segera melacak mu,"ancam Freya."Tidak bijak mengatakannya,sementara adikmu ini sedang di tanganku,kan?"ancam Natz balik."B******n,"umpat Seira."Kurang ajar!"seru Natz sambil menampar Seira saat mendengarnya."Kalau bukan karena bayaran yang tinggi,aku tidak akan mau menyeret kalian ke sini!"

"Bayaran? Sejak kapan psikopat gila sepertimu peduli dengan uang?!"teriak Seira."Kalian pikir aku-si "psikopat gila" ini-menyiksa kalian hanya untuk senang-senang atau untuk membalas dendam saudariku yang b******k itu? Yah,kuakui setengahnya karena senang-senang.Tapi aku ini pembunuh bayaran,seperti semua kawan-kawanku.Kecuali si Michelle dan si Maya itu sih,"kata Natz."Dan aku dapat bayaran tinggi untuk membunuhmu."

Selama itu pula,Natz mengirim video penyiksaan Seira pada orangtuanya."Pak,tolong temukan dia! Saya tak kuasa melihat dirinya disiksa begitu!"pinta Ibu Seira.Gambaran jeritan Seira lebih dari cukup untuk membuatnya menangis.Melihat tubuhnya yang berdarah-darah,apalagi.Suaminya memeluknya,berusaha memberikan kenyamanan,meskipun pikirannya juga kalut.Salah satu putrinya sedang disiksa di ambang kematian,sementara putrinya yang lain diikat tak berdaya.

12 tahun yang lalu...
Natalie adalah seorang anak broken home.Ayahnya seorang pecandu narkoba.Ibunyalah yang menanggung beban keluarganya."Uang!Sini uangnya!"bentak ayah Natalie."Tapi ini untuk makan...,"kata Ibunya.Ayah Natalie tanpa segan menusuk istrinya.Ia langsung dipenjara.Dan Natalie ada disana.Trauma yang sedemikian hebatnya melanda dirinya.Ia kehilangan simpati pada orang lain.Kejadian itu seolah membangkitkan sisi jahatnya.
 Kembali ke masa sekarang

Ia melilit Seira dengan kawat besi tajam yang langsung menembus kulitnya dan mengeluarkan darah.Ia mengalirinya dengan listrik."Nak!"teriak seseorang.Seira mendengarnya."Ibu!"teriak Seira.Setelah sekitar 15 menit,Natz mematikan kameranya.Ia membuka lilitannya.Tubuh Seira penuh luka dan ambruk ke tanah.Ia sudah tidak kuat menopang diri sendiri.Entah apa saja yang telah dilaluinya.Seluruh tubuhnya disiksa tanpa ampun,dari kepala sampai ujung kaki.Tidak ada lagi Seira yang pintar,sopan dan berakhlak baik,tidak pula Seira yang seorang bandar narkoba,yang ada hanya Seira yang menjadi mainan bagi pemiliknya-para lelaki hidung belang dan Natz.Hanya ada Seira yang putus asa."Keputusasaanmu itu wajar,sih.Kurasa aku harus memujimu.Kau orang pertama yang bisa bertahan selama ini.Tapi,seorang Seira pun nampaknya tidak kuat lagi,ya,"kata Natz."Kau harus sadar posisimu sekarang.Kau cuma boneka mainan milikku." "Sekarang,beritahu aku.Lebih tepatnya,beritahu bosku.Di mana tempatmu menyembunyikan narkoba rampasan itu?"

Seira dan Freya tercengang untuk kedua kalinya."Saat kau membunuh Michelle,bawahanmu membawa pergi narkoba di gudang besar dekat situ,kan?"tanya Natz."Aku tidak tahu,"kata Seira lemah."Kalau aku tahu,aku tidak akan menjajakan diriku sendiri di jalanan,"lanjutnya.Natz menggertakan gigi.Ia mengumpat-umpat.Ia tahu,yang dikatakan Seira itu benar,tapi jika ia tidak mendapat jawabannya,bayarannya bisa dikurangi.Ia menendang perut Seira sekali lagi untuk melampiaskan frustasinya,lalu keluar dari ruangan itu sambil berkata,"Anggaplah kau dapat istirahat,Seira Landeve Bell."

"Natalie...kau tahu yang akan kau dapat setelah ini,kan?"tanya Freya.Ia mulai merasakan rasa bersalah.Seharusnya dia tidak menerima tawaran orang itu.Tawaran untuk membayar dirinya jika ia membawa Seira."Maaf,Seira,karena aku kau jadi begini,"batin Freya."Tentu saja.Aku sudah menculik kalian berdua,lalu ada pasal untuk penyiksaan dan HAM atau apalah.Lalu untuk penyuapan..Aku tahu,"jawab Natz."Hukumanmu bisa dikurangi jika kau mengentikan ini sekarang,"kata Freya.Ia menatap adiknya.Seira menangis kencang tak sanggup menahan rasa sakit.Ia ingin mati saja,tapi Natz tidak membiarkannya mati."Bunuh saja aku...,"gumam Seira disela tangisannya.Natz melecutkan cambuknya lagi,kali ini mengenai bagian belakang lehernya."Diam,"desisnya sambil memalingkan pandangannya ke Freya,"Kau ini pandai bersilat lidah." Natz mengambil pisau lalu menebas tangan kiri Freya.Ia melanjutkannya ke tangan kanan,lengan,badan,hingga ia meninggal.Tepat saat itu,terdengar langkah kaki.....

"Angkat tangan!"perintah seorang polisi sambil mengacungkan pistol.Natz menarik Seira ke arahnya."Tembaklah,"balas Natz sambil menjadikan Seira tameng hidup.Seira menggunakan sisa kekuatannya dan berteriak,"Tembak saja!".Tapi si polisi melihat kaki Natz yang tidak terlindung,dan menembaknya.Natz mengambil pisau dan...

"Argghhhh...."teriak Seira saat pisau itu menusuk bagian belakang kepalanya hingga menembus mata kirinya.Sungguh pemandangan yang mengerikan."Selamat tinggal,Seira sayang,"ucap Natz seraya menyabut pisaunya.Tepat saat itu,timah panas menghujam dadanya.Mengakhiri nyawanya.Lebih tepatnya,kelihatannya demikian.

"Nak!"teriak kedua orangtua Seira."Uh..bajuku..surat.."Seira tewas.Orangtuanya menemukan surat dalam kantong bajunya.

"Ayah,Ibu.Kalau kalian membaca surat ini,artinya aku sudah meninggal.Aku minta maaf telah mengecewakam kalian.Sejak aku menggantungkan diriku pada narkoba hidupku tidak pernah tenang.Aku pikir narkoba itu solusi.Kupikir,setiap kali aku pergi ke diskotik,aku merasa bebas.Aku tidak sadar itu hanya menghanyutkan dan menghancurkanku.Memang benar perkataan orang dulu:narkoba merusakmu.Tapi aku tidak bisa berpaling.Tanpa obat itu,aku akan jadi gila.Aku melakukan apapun demi itu,bahkan jika itu berarti membuang harga diriku sendiri.Aku sadar semua ini salah.Tapi semuanya terlambat.Aku tidak akan bisa direhabilitasi.Bahkan bila bisa pun,aku akan selamanya dicap sebagai sampah masyarakat.Ini sama sekali tidak mengurangi dosaku,tapi maafkanlah anakmu ini.
-Anakmu yang durhaka"

Kedua orangtuanya menangis,meratapi jasad putri-putrinya......

"Ini gila,"kata seorang dokter wanita di ruang autopsi."Yang ini kondisinya buruk sekali.Kepala,tubuh,tangan,kaki,semuanya.Mata kirinya bahkan hancur.Siapapun yang melakukannya pasti benar-benar ingin menghancurkannya,bukan sekadar ingin menghabisi,"kata rekannya,kepala dokter RS itu."Lihat darahnya.Benar-benar kejam.Ini bukan sekedar pembunuhan.Yang ini...jelas dimutilasi.Kejam,tapi tidak segila yang satunya lagi." "Cepatlah kita selesaikan.Aku tak tega melihat mereka,terutama yang berambut perak ini."

10 menit kemudian...

"Oke.Kita sudah selesai."kata kepala dokter."Sebentar.Ada sesuatu ketinggalan."kata si dokter wanita."Eh?! Mayatnya hilang?!"
Dan dua siluet yang masing masing membawa sebuah tubuh pun tak terlihat...