Sementara itu,kecurigaan orangtua Seira mulai muncul.Ditambah lagi,mereka menemukan serbuk putih di dalam kamar Seira.Serbuk yang oleh Seira dia sebut garam untuk eksperimen IPA,padahal sebenarnya narkoba.Meskipun pada dasarnya mereka agak cuek dan hanya peduli pada bisnis farmasi yang mereka miliki,mereka menyadari perubahan sikap Seira yang jadi kasar,bau alkohol yang tercium darinya,dan nilainya yang terus menurun."Nak,kenapa nilai mu jadi seperti ini,jangan bohong lagi.Ibu tahu kamu minum miras,kan? Ibu juga menemukan rokok,dan Ibu yakin serbuk putih itu bukan garam,"kata Ibu Seira yang masuk ke kamar putrinya."Ya! Memang benar! Aku perokok,pemabuk,dan pecandu narkoba! Lalu kenapa?"bentak Seira sambil pergi keluar kamar.Ia hendak pergi ke tempat yang dikenalkan Cathy:tempat judi.Ia mengenakan baju hijau pucat yang ukurannya kekecilan dan rok hitam sedikit di atas lutut."Seira Landeve Bell! Mau kemana dengan pakaian seperti itu? Apakah kamu mau kehilangan martabatmu sebagai perempuan?"gelegar Ibunya,yang yakin seratus persen tempat yang akan dikunjungi putrinya bukan tempat yang baik.Teriakan itu dianggap angin lalu oleh Seira.
"Seira,kamu belum mau pulang?"tanya Angel.Mereka sudah pergi ke sebuah bar."Malas.Paling kena marah lagi.Kalian pulang dulu saja,"jawab Seira.Itu jam 12 malam."Oke,"kata Cathy."Kami pulang dulu.Jangan kelamaan,kadang ada razia,"lanjut Michiko.Seira mengangguk.Ia benar-benar mabuk berat.Sial,jam 3 pagi,polisi melakukan razia."Dek? Dek? Masih mabuk?"tanya seorang polwan.Ia sudah di kantor polisi."Mm..Ya,"gumam Seira."Lain kali jangan lagi ya,"lanjutnya.Ia diantar pulang.Sesampai di rumah,ia dimarahi habis-habisan.Ia merencanakan untuk minggat,tetapi hatinya masih bimbang dan ragu.
Seira dan kelasnya sedang mengikuti pelajaran IPA.Seira sedang hampir mengalami sakaw,yaitu kondisi dimana seorang pecandu narkoba tidak mengonsumsinya dalam waktu tertentu.Ia gelisah dan pucat.Sulit mendapat izin Bu Erna."Sei,kamu tidak apa-apa?"tanya Nana,teman sebangkunya.Seira menggeleng."Bu,bolehkah saya izin ke toilet?" "Boleh sekali ini."
Seira cepat-cepat ke toilet dan mengeluarkan sebuah pil.Ia menelannya."Sei,Sei,hebat sekali kamu." "Cathy!" "Pintu digerendel lah.Ketahuan,gawat," Cathy mengerendel pintunya.Ia mengeluarkan sebungkus rokok."Sei.Kabur sajalah dari rumahmu," "Eh? Lalu aku jadi gelandangan,gitu?" "Ya enggak lah." "Sebenarnya,Cathy,kamu ini siapa?" "Aku dikirim ke sini oleh Bos-ku..untuk memengaruhi orang sepertimu gitulah." "Yah,tidak masalah.Pergi ke diskotik,bar,atau kasino lebih menyenangkan daripada pergi ke les.Aku tidak peduli mau dikatai apa." "Nah.Minggatlah.Kita bisa urus bisnis narkoba kita dengan lebih mudah.Kau tahu,bisnis ini paling menguntungkan." "Yah,tapi.." "Dengar Seira.Meski kau bertobat sekarang pun,kamu selamanya dicap buruk.Kalau orangtuamu tahu,apa yang akan mereka lakukan? Mengirimmu ke pusat rehabilitasi? Atau mungkin mereka akan membuangmu?" Seira terdiam. "Seira..Aku..Aku menyukaimu." "M..maksudmu?" "Benar.Aku....tidak normal." "Kenapa?" "Itu terjadi 2 tahun yang lalu..saat aku berumur 13.Aku sedang jalan-jalan dengan pacarku.Tiba-tiba beberapa orang mencoba menyekapku.Belakangan aku tahu mereka sindikat penjualan organ manusia.Untungnya beberapa polisi datang menyelamatkanku.Aku sangat trauma.Sejak itulah." "Ooh...." Cathy tersenyum kecil sambil berkata,"Tidak apa-apa,toh itu sudah berlalu." "Si bodoh ini benar-benar percaya cerita karangan absurd tadi rupanya,"batin Cathy."Dobrak!"
Gebrak! Gebrak! Pintu itu rusak.Beberapa guru perempuan masuk dan membawa mereka ke ruang BK.Untung mereka tidak melihat narkoba yang mereka bawa.Seira dikenai skors 3 hari."Sudah cukup,Seira! Sudah cukup! Pikirkan masa depanmu!"bentak Pak Bell."Seira,berhentilah berbuat aneh-aneh.Kalau tidak,Ibu akan mengirimmu ke panti rehabilitasi!"ancam Bu Bell.Sebetulnya itu ancaman kosong.Pak Bell dan istrinya tak sampai hati mengirimkan putrinya ke panti rehabilitasi."Aku tidak peduli! Lebih baik aku pergi ke diskotik daripada mendengar ocehan kalian!"teriak Seira sambil membanting pintu.Di balik pintu itu,sesosok ibu menangis melihat kelakuan putrinya.
Seira minum berbotol-botol.Ekstasi dan sabu pun tidak lepas dari genggamannya.Bahkan saat ia nyaris tak sadar pun,ia masih meminta lagi,lagi,dan lagi."Uh..kamu yakin bisa pulang nanti?"tanya si pembuat minuman.Pertanyaan itu tidak dijawab.Seira sudah terlalu mabuk.Diskotik itu sudah mau tutup,jadi si pembuat minuman membawanya pulang.Batas kesabaran Pak dan Bu Bell mulai habis.
"Dokter,bagaimana kondisi anak saya?"tanya Pak Bell kepada Dr.Reyfandi.Ia adalah seorang dokter tersohor yang menemukan beberapa jenis obat baru.Kebetulan,ia merupakan kawan dekat Pak Bell.Jadi,ia bersedia menolong."Hmm...detak jantungnya tidak normal,"kata Dr.Reyfandi."Kenapa bisa begitu?" "Peralatan yang kubawa tidak cukup mutakhir,tapi sepertinya ia mengonsumsi narkoba jenis stimulan."
Setelah adu mulut hebat lainnya,Seira memutuskan untuk minggat dari rumah itu.
Untuk menjalankan rencana edan tersebut,ia telah membuat rancangan untuk mencuri barang berharga.Cathy,Angel,dan Michiko telah setuju untuk membantunya mencuri dan menjual semua barang di pasar gelap,dengan imbalan sepuluh persen dari hasilnya."Tapi,tinggal di mana aku nanti?"tanya Seira saat membahas rencana minggat tersebut."Gampang,tinggal bersama kami saja,"jawab Michiko ."Kami tinggal dengan Bos Jack.Dia yang mengatur peredaran narkoba di daerah ini,"lanjut Angel."Dia juga sudah setuju tentang kamu tinggal di rumahnya.Toh,kamu sudah membantunya mengedarkan barang miliknya,"timpal Cathy."Boleh juga.Makasih,"jawab Seira.Satu minggu kemudian,datang kesempatan sempurna.Ibu Seira memasak sup ikan,tapi Seira alergi ikan.Jadi,ia bisa menaruh obat tidur di dalam sup tersebut.Selesai makan malam pukul 7,seisi keluarga langsung tertidur satu jam setelahnya.Seira membukakan pintu untuk teman-temannya.Mereka mencuri jam tangan,perhiasan,dan lain-lain.Pokoknya apapun yang terlihat mahal."Nih,bagianmu 900 juta."ujar Angel sambil menyerahkan sekoper uang kepada Seira.Total penjualannya mencapai 1 miliar.Tak terasa,1 tahun sudah berlalu.Seira dan teman-temannya sudah berusia 15 tahun dan tidak sekolah lagi.
2,5 tahun kemudian,polisi mengadakan operasi anti narkoba.Sejumlah bawahan Bos Jack sudah
ditangkap.Bos besar di Jakarta tinggal Bos Jack.Sementara itu,banyak bandar yang tertangkap dan dijebloskan ke penjara.Sisanya antara bawahan Bos Jack atau pengedar kecil.Celah ini yang dimanfaatkan polisi untuk
menjatuhkan bandar besar terakhir.Ayah dan Ibu Seira terlibat.Polisi berniat memancing Seira dengan
berita kematian orangtuanya dan ia masih mendapat warisan.Seira,dengan ditemani
Cathy,Angel,dan Michiko,pergi ke rumah yang telah ditunjukkan."Angkat tangan,kalian sudah terkepung!"teriak seorang polisi.Tapi Seira dan teman-temannya lebih cerdik.Mereka sudah tahu akan diperangkap,Jadi mereka sudah menyiapkan jebakan.Bawahan Bos Jack menyerbu masuk.Polisi yang tidak siap langsung kalah.Akan tetapi,pada akhirnya polisi melacak markas mereka.Polisi menemui perlawanan sengit.
"Boom!"suara granat menghancurkan tangan kanan Angel.Cathy mengisi pistolnya dan menembak seorang polisi.Peluru berterbangan di mana-mana."Urghh,"teriak Michiko saat peluru menembus jantungnya."Sei,kita harus pergi,"bisik Cathy.Seira mengganguk walau sibuk menembaki polisi.Mereka kabur lewat pintu belakang.
Seira dan Cathy memulai bisnisnya lagi.Makin lama,usahanya berkembang selama 2 tahun dan mereka menjadi Bos.Akan tetapi,mereka makin diincar polisi.Namun,bisnis terus
berkembang.Mereka makin membenci polisi.Tapi,mereka tidak menyadari pihak lain yang juga membenci mereka.
Mereka memperluas bisnis hingga daerah lain,yang menyebabkan Bos setempat sangat marah.Namanya adalah Caroline,tapi itu pun hanya nama palsu.Nama aslinya tidak pernah diketahui.Terjadi kerusuhan kecil.Namun,tiga bulan kemudian terjadi baku tembak.Sekelompok pengedar yang memiliki gudang besar menyerah kepada polisi.Polisi lalu hendak menyita isi gudang tersebut.Kedua pihak Bos Besar kini berminat merebut gudang tersebut.Setelah pertempuran berdarah selama 8 jam,polisi terpaksa mundur.Semua pihak telah kehilangan banyak pasukan.Diam-diam,sekelompok bawahan Seira mengambil isi gudang besar tersebut.Setelah misi selesai,pasukan Seira dan Cathy langsung mundur.Caroline dan seseorang berjaket hitam mengejar kedua musuh mereka.Caroline menembak Cathy,yang dibalas dengan tembakan Seira kepada si jaket hitam.Seira dan Caroline berduel.Peluru mereka akhirnya habis.Caroline menarik dua pisau panjang.Seira membalas dengan sebuah pedang panjang."Menyerah sajalah,Seira!Aku tidak pernah kalah dalam
duel senjata tajam seperti ini!"teriak Caroline.Seira melompat dan menebas ke depan,tapi berhasil dihindari.
.Setelah duel nekat tersebut,Seira kehilangan pedangnya.Lehernya tertebas dan mengalami pendarahan parah."Tadi itu hebat,Seira.Kurasa kau layak mengetahui nama asliku,Michelle!"teriak Caroline yang memiliki nama asli Michelle.Detik selanjutnya,Seira menarik pisau yang ia sembunyikan dan
menusuk jantung Michelle.Michelle meninggal seketika.Namun,Seira masih melihat sekilas rambut biru yang persis rambut Michelle sebelum ia sendiri pingsan.
Dan ia dibangunkan dengan cara kejam:dicambuk.Dan si pencambuk adalah Maya!Cathy terbaring disampingnya."Bangun,Seira b******k!"teriak Maya."Michelle tewas karena kalian!"teriaknya lagi.Hari itu,teriakan dan erangan Seira dan Cathy terdengar jelas di tempat antah-berantah itu.Mereka kelaparan dan kehausan dan mengalami efek tidak mengonsumsi narkoba."Apa yang kamu inginkan?Uang? Kami bisa berikan kamu uang!"kata Cathy."Kalian mengingatkanku pada saudari sepupuku yang lain.Dia gila harta dan menjadi pembunuh bayaran.Kalian semua sama saja,maniak harta!"kata Maya sambil mengayunkan sebuah kawat besi.
Seira dan Cathy memulai bisnisnya lagi.Makin lama,usahanya berkembang selama 2 tahun dan mereka menjadi Bos.Akan tetapi,mereka makin diincar polisi.Namun,bisnis terus
berkembang.Mereka makin membenci polisi.Tapi,mereka tidak menyadari pihak lain yang juga membenci mereka.
Mereka memperluas bisnis hingga daerah lain,yang menyebabkan Bos setempat sangat marah.Namanya adalah Caroline,tapi itu pun hanya nama palsu.Nama aslinya tidak pernah diketahui.Terjadi kerusuhan kecil.Namun,tiga bulan kemudian terjadi baku tembak.Sekelompok pengedar yang memiliki gudang besar menyerah kepada polisi.Polisi lalu hendak menyita isi gudang tersebut.Kedua pihak Bos Besar kini berminat merebut gudang tersebut.Setelah pertempuran berdarah selama 8 jam,polisi terpaksa mundur.Semua pihak telah kehilangan banyak pasukan.Diam-diam,sekelompok bawahan Seira mengambil isi gudang besar tersebut.Setelah misi selesai,pasukan Seira dan Cathy langsung mundur.Caroline dan seseorang berjaket hitam mengejar kedua musuh mereka.Caroline menembak Cathy,yang dibalas dengan tembakan Seira kepada si jaket hitam.Seira dan Caroline berduel.Peluru mereka akhirnya habis.Caroline menarik dua pisau panjang.Seira membalas dengan sebuah pedang panjang."Menyerah sajalah,Seira!Aku tidak pernah kalah dalam
duel senjata tajam seperti ini!"teriak Caroline.Seira melompat dan menebas ke depan,tapi berhasil dihindari.
.Setelah duel nekat tersebut,Seira kehilangan pedangnya.Lehernya tertebas dan mengalami pendarahan parah."Tadi itu hebat,Seira.Kurasa kau layak mengetahui nama asliku,Michelle!"teriak Caroline yang memiliki nama asli Michelle.Detik selanjutnya,Seira menarik pisau yang ia sembunyikan dan
menusuk jantung Michelle.Michelle meninggal seketika.Namun,Seira masih melihat sekilas rambut biru yang persis rambut Michelle sebelum ia sendiri pingsan.
Dan ia dibangunkan dengan cara kejam:dicambuk.Dan si pencambuk adalah Maya!Cathy terbaring disampingnya."Bangun,Seira b******k!"teriak Maya."Michelle tewas karena kalian!"teriaknya lagi.Hari itu,teriakan dan erangan Seira dan Cathy terdengar jelas di tempat antah-berantah itu.Mereka kelaparan dan kehausan dan mengalami efek tidak mengonsumsi narkoba."Apa yang kamu inginkan?Uang? Kami bisa berikan kamu uang!"kata Cathy."Kalian mengingatkanku pada saudari sepupuku yang lain.Dia gila harta dan menjadi pembunuh bayaran.Kalian semua sama saja,maniak harta!"kata Maya sambil mengayunkan sebuah kawat besi.
Tapi akhirnya,seorang polisi yang kebetulan lewat disitu,melihatnya.Polisi datang dan menangkap ketiganya.Seira,dengan segala tipu muslihatnya,berhasil kabur setelah 3 hari.Namun ia pingsan karena kelelahan.Ia bertemu seseorang yang merawatnya."Uh,kamu siapa?"tanya Seira."Aku Natalie.Panggil saja Natz,"jawab si orang asing.Setelah beberapa hari,tanpa pemimpin,jaringan narkotika di Jakarta dan Bandung hancur berantakan."Aku harus pulang."kata Seira,yang khawatir akan dilaporkan jika Natz tahu ia pecandu.""Tenanglah."kata Natz,seraya memberikan beberapa pil narkoba kepada Seira.Tiba tiba Seira mengingat sebuah poster.Jelas wajah Natz dan rambut merah cerahnya terpampang,dengan tulisan dicari.Sementara itu,Cathy tak tinggal diam.Ia juga berhasil kabur,dan melihat Seira dan Natz.Ia merasa ada yang aneh dan mencuri selembar kertas yang dia rasa mencurigakan.
Seira diperlakukan dengan sangat baik hingga ia mempercayai Natz.Tapi Cathy menemukan hal lain.Ia menemukan rencana rahasia Natz,yaitu membunuh Seira,atas perintah seorang sosok misterius dengan bayaran ratusan juta rupiah."Apakah Natz saudari sepupu Maya yang ia ceritakan dulu?"gumam Cathy pada dirinya sendiri.Cathy mendobrak rumah Natz dan membuatnya pingsan."Cathy,apa yang kamu lakukan?"tanya Seira kebingungan."Cepat,kita harus pergi secepat mungkin,"jawab Cathy sambil menyerahkan kertas yang ia temukan.Namun polisi menemukan mereka.Mereka tertangkap.
Seira memandangi ruangan selnya.Hanya berukuran 2 kali 1,5 meter,dengan sebuah kasur tipis dan sebuah kakus."Ini makanannya."kata seorang penjaga sambil menyerahkan sebuah mangkuk nasi,semangkuk kecil sup jagung,dan dua potong tempe bacem yang tidak tampak menggugah selera.Seira menghela napas,dan mengambil sepotong tempe,dan memakannya.Ia langsung memuntahkannya."Makanan jangan dibuang-buang,Seira Landeve Bell."kata penjaga tadi.Seira menatap wajahnya,dan langsung setengah berteriak,"Gilbert!".Tapi Gilbert,teman sekelasnya,tidak mendengarnya karena dia sudah pergi.Beberapa hari kemudian,Seira terkena demam.
Demamnya nyaris mencapai 40 derajat celcius,tapi sudah membaik.Ia sedang menyantap semangkuk bubur,ketika ada tamu tak diinginkan datang.Natalie."Apa maumu?"tanya Seira tanpa basa-basi."Ikuti aku dan aku akan membawamu pergi dari sini,"jawab Natz.Seira nyaris tidak bisa menyembunyikan kekagetannya."Kau menipuku,dan sekarang kau datang dengan omong kosong,"kata Seira."Seira,jangan menipu diri sendiri.Kau tidak ingin berada di sini sampai dibebaskan.Aku tahu itu,"kata Natz."Kau ingin membunuhku,"kata Seira."Kuakui itu benar.Tapi tugasku adalah membawamu,hidup atau mati,kepada bosku.Jadi,kalau kau mau dengan sukarela ikut,aku akan minta pada bosku agar tidak membunuhmu." Seira menggeleng sambil berkata,"Enyahlah." Natz menggeram kesal,tapi dia juga tidak beranjak pergi."Selamat.Aku sudah punya bukti kau dan Cathy mengkhianati bosmu,"ancam Natz."Bos apa? Aku tidak punya bos,"kata Seira."Hmph.Mungkin bukan bosmu,tapi bos Cathy.Tidak kau sangka,ya?"jelas Natz sambil menyeringai.
Tanpa diduga,Seira merebut HP Natz dan membantingnya sekuat tenaga.HP itu rusak berkeping-keping.Natz mengeluarkan sebuah jarum suntik,dan membius Seira dengan obat bius di dalam jarum tersebut."Kau mau melawan,ya.Tindakan yang bodoh." Natz membawa Seira ke kamar penyiksaan miliknya."Kamu mau menyiksaku,kan?"tanya Seira saat sudah bangun."Menurutmu?"tanya Natz.Seira menghela napas sambil mengumpat dalam hati.Tiba-tiba ia melihat seseorang dan berteriak,"Gilbert!",namun tidak dihiraukan.Natz mengeluarkan sisi gelapnya yang bahkan jauh lebih parah dari Maya.Darahnya berceceran di mana-dimana."Ini belum apa-apa,Seira.
Tiga hari kemudian,Seira sudah berada dalam kondisi nyaris meninggal.Gilbert ternyata bekerja sama dengan Natz,yang memungkinkan Natz untuk masuk dan keluar RS dengan mudah.Tapi,Gilbert sendiri juga tak kuasa melihat kekejaman Natz."Aku mau pergi beli camilan sebentar,"kata Gilbert."Aku titip kue cubit seporsi,"teriak Natz.Gilbert lari ke kantor polisi,dan Seira kembali ke rumah sakit,sementara Natz masuk rumah sakit jiwa.
3 bulan kemudian,Seira kabur lagi.Ia kehilangan semua hartanya.Ia terpaksa menjual diri demi memenuhi kebutuhannya akan narkoba.Ia mengontrak kosan.Pemiliknya,Kana,membiarkannya tinggal cuma-cuma."Dulu,waktu kau dan adikku Cathy masih menjadi bos narkoba,Cathy pernah memberiku beberapa kilo narkoba.Itu sudah kuanggap pembayarannya." Seira memicingkan mata setelah membaca surat itu.Seingatnya,tidak ada kejadian kiloan narkoba hilang begitu saja."Ah,buat apa aku peduli.Baguslah kalau gratis!"Di situ,ia tidak perlu khawatir ketahuan karena kosan itu sendiri salah satu tempat peredaran narkoba.Temannya-Cathy-hilang entah ke mana.Gaya hidupnya jadi semakin kacau.Di kalangan para bejat,ia menjadi favorit,separuh karena dia tidak peduli ia diapakan selama ia dibayar,dan separuhnya lagi karena wajahnya yang rupawan.Alat dandan untuk memikat pelanggan selalu siap sedia di dalam laci.Setiap malam,ia mendandani dirinya sendiri dan menggerai rambut peraknya,sambil memakai pakaian yang terbuka.
Ia juga bertemu dua saudara kembar,Lesley dan Leslie,yang menghuni kosan itu juga.Ia juga berteman dengan Lascrea."Seira,kenapa kamu melakukan ini?"tanya Lascrea."Aku kecanduan narkoba.Bagaimana denganmu?"Seira bertanya balik."Aku hanya anak jalanan....Lalu seseorang bernama Kana menawariku pekerjaan yang 'mudah'.Ia memberikanku beberapa setel pakaian.Dan,yah,begitulah,"jawabnya."Kana? Bukankah itu kakaknya Cathy?"batin Seira."Tapi ini bukan pekerjaanku satu-satunya,kok,"lanjut Lascrea,"biar kutunjukkan."Mereka berdua menuju ke toilet umum.
"Lama sekali,Lascrea,"kata seseorang."Maaf,Kana,"kata Lascrea."Yasudah,mana barangnya?"tanya Kana.Ia meny odorkan sebuah baskom."Seira?! Sedang apa kamu disini?"tanya Kana."Mana Cathy?"tanya Seira balik.Kana menggeleng sambil berkata,"dia hilang." Sementara itu,Lascrea menggelitik tenggorokannya sendiri.Ia muntah.Di antara muntahan Lascrea ada banyak kantong balon kecil.Seira tahu persis apa itu.Cara membawa narkoba yang menurutnya paling edan tapi bayarannya tinggi.Lascrea pasti sedang melakukannya."17,18,19,20,21,...masih kurang.Harusnya ada 30.'Lascrea menghela napas dan muntah lagi."Nah.Begitu baru pas,"kata Kana.Ia menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah.
Seira dan Lascrea sudah pergi dari toilet itu."Lascrea,dua ratus ribu untuk pekerjaan itu...." Lascrea menghela napas."Apa boleh buat.Kana adalah satu dari dua bos di sini.Semuanya diwajibkan membayar padanya.Aku tidak tahu telah ditipu begitu.Dia mengancamku,aku akan diusir dan dilaporkan.Jadi karena aku tidak bisa bayar,jadi,yah...." "Aku tidak bayar,tuh...."kata Seira."Kau itu partnernya adiknya Kana,kan? Pengecualian mungkin,"kata Lascrea.Telepon genggamnya berdering."Ya,Leslie?" "Hotel Majaraya? Oke-oke."Lascrea menutup telefonnya,"Aku harus pergi," Seira mengganguk dan Lascrea pun pergi.Seira kesal.Ia sendiri belum dapat pembeli.Padahal,ia yang paling laku biasanya."Sial...."umpatnya.Ia mengeluarkan foto dirinya sendiri saat SD kelas 5.Saat itu ia memenangi lomba OSN provinsi."Seharusnya aku tidak pernah pergi dari rumah itu."
"Seira!"panggil seseorang."Ya?"tanya Seira.Orang itu adalah Nana."Nana! Kenapa kau di sini?"tanyanya."Aku yang harus bertanya begitu.Apakah kamu salah satu dari 'mereka'?"tanya Nana balik.Seira mengganguk pelan."Seira....kau membuang harga dirimu sendiri?"tanya Nana."Aku sudah membuangnya sejak lama."jawab Seira."Semuanya mengkhawatirkanmu,bodoh.Bayangkan apa kata orangtuamu.Ikutlah denganku."ajak Nana.Seira menggeleng sambil berkata,"Jangan buang waktumu untukku,Nana.Aku sudah jatuh terlalu dalam." Nana tidak menyerah."Aku ingat saat itu,Seira.Kamu memenangi lomba olimpiade.Satu sekolah sangat bangga.Tapi lihat dirimu sekarang.Hanya jadi tempat pelampiasan nafsu sesaat.Bukankah itu menyedihkan?"lanjutnya dengan nada persuasif.Seira menggeleng."Tapi kau malah merusak diri sendiri.Jangan bodoh,Seira,"lanjutnya.Seira terdiam.Tidak bisa berucap lagi."Seira!"teriak seseorang."Kak Shizuka? Ada apa?"tanya Seira."Orang yang dipanggil Shizuka itu menghampiri dan menatap Nana sambil berkata,"Oh,kamu sudah dapat pelanggan rupanya." Habis sudah kesabaran Nana.Matanya berkilat menunjukan kemarahan.Tapi belum sempat ia berucap,Shizuka melanjutkan,"Eh,tapi aku tidak pernah melihatmu.Yah,kau beruntung bisa mendapatkan Seira.Dia salah satu yang paling populer di sini,loh." Nana terlihat ingin sekali mengamuk mendengarnya.Tapi ia masih menahan amarahnya."Baiklah,Seira.Karena kamu sibuk dengan pria-pria itu,aku pergi dulu,"katanya dengan nada sarkatis sambil beranjak pergi.Tapi sebelumnya dia masih sempat menoleh dan berkata kepada Shizuka,"Dan kau,aku tidak peduli kau siapa,tapi aku tidak sudi berurusan dengan bisnis jual-beli tubuh sepertimu."Nana pun pergi."Ah,sayang sekali.Padahal dia cantik loh,"gumam Shizuka."Tadi kenapa,Kak Shizuka?"tanya Seira memecah gumaman Shizuka."Ada yang ingin menyewa kita."
Hotel Majaraya.Hotel bintang empat yang dikenal karena reputasi buruknya.Seira sendiri sering dibawa ke sana."Selamat malam.Pesan kamar apa?"sapa resepsionis hotel itu."Kamar untuk tiga orang,satu malam." "Maaf,berdasarkan aturan,Anda harus terlebih dahulu membuktikan hubungan keluarga.Kecuali itu,laki-laki dan perempuan dilarang satu kamar,"ujar si resepsionis.Shizuka mengedipkan mata.Resepsionis itu memahami artinya dan menyerahkan sebuah kunci.
Malam itu,ia baru selesai melayani pelanggan itu ketika Lesley menelefon.Shizuka sudah pulang."Seira,ada orang ingin bertemu denganmu.Di hotel tempatmu sekarang,ruang 139."kata Lesley."Siapa?"tanya Seira."Entahlah,dia bilang namanya Freya.Mungkin dia ingin menyewamu? Dia memintamu cepat-cepat datang,"jawab Lesley.Seira langsung pergi ke kamar 139.Ia teringat kakak sepupunya yang tinggal bersama keluarganya yang juga bernama Freya.Ia kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan dan menjadi kakak angkat Seira.Seira mengetuk pintu dan langsung masuk.Di dalamnya ada seseorang yang menutupi mukanya dengan tudung hitam."Siapa juga yang memakai pakaian jubah hitam begitu? Dasar kurang kerjaan,"pikir Seira.Ia langsung membuka jaketnya."Jadi ini Seira?"kata si orang tak dikenal.Seira mengenali suara itu."Kau...Kak Freya?"tanya Seira.Orang itu membuka tudungnya dan mengangguk."Kakak sedang apa disini?"tanya Seira."Aku melakukan hal yang sama denganmu."jawab Freya.
Flashback
"Freya! Kenapa pulang malam lagi?!"tanya Bu Bell saat anak angkatnya,Freya Casille Bell,pulang jam 12 malam."Aku pacaran dengan pacarku,"jawab Freya cuek."Pacaran terus! Sejak kamu pacaran,nilaimu turun terus!"kata Bu Bell."Jangan mengekangku,Bu!"bentak Freya."Aku paham sekarang kenapa Seira pergi,"lanjutnya.Ia pergi meninggalkan rumah itu.Keluarga Bell telah kehilangan kedua putrinya.
Kembali ke masa sekarang
Seira menatapnya tidak percaya."Tidak percaya?Lihat saja sendiri,"kata Freya.Freya membuka tasnya yang berisi macam-macam barang.Rokok,pil narkoba,dan entah apalagi."Lalu buat apa kakak kesini?"tanya Seira."Ini love hotel,bodoh.Aku ingin melakukan apa yang biasa dilakukan di sini,"jawab Freya sambil membuka jaketnya,"denganmu.""Tapi kita masih saudara dekat,"kata Seira."Tenang saja,"kata Freya."Bukankah Cathy sudah meninggalkanmu? Memangnya kau punya kerjaan apa lagi,sih? Temanmu saja meninggalkanmu,"Seira memandangi mata kakaknya."Memang benar,"batin Seira,"Cathy tidak pernah datang saat aku membutuhkannya.""Kau mau melakukannya dengan orang asing,tapi tidak mau melakukannya dengan kakakmu sendiri?"tanya Freya untuk mempengaruhi adiknya itu.Tapi Seira tetap menggeleng.Freya mulai kesal.Ia membanting bundelan uang di atas kasur."Kau membutuhkannya,iya,kan,adikku tersayang?"tanya Freya.Seira menatap bundelan itu dan menjawab,"Baiklah...." Freya menyeringai."Terlalu mudah.Sebentar lagi dia akan memberikan bayaranku,setelah kubawa Seira padanya."
Masalahnya,resminya itu hotel biasa.Karena reputasi buruknya,polisi sering merazia tempat itu.Saat itu jam 12 malam."Ini ruangannya?"tanya seorang sersan."Benar,pak,"jawab Leslie dan Lesley serempak."Hebat.Kita cuma mau melakukan razia,tapi malah menemukan mereka,"kata seorang sersan lainnya."Cepatlah pak,kedua putriku ada di dalam,"kata Bu Bell."Tenang saja Bu.Kami akan melakukan ini dengan cepat,"kata salah satu sersan,sementara sersan yang lain mencoba membuka pintu yang terkunci.Sementara itu,di dalam ruangan,Seira dan Freya tidak mendengar suara-suara di luar,karena ruangan itu sepenuhnya kedap suara.
Si sersan berhasil mendobrak pintu dengan sekali dobrak.Freya dengan refleks langsung menutupi dirinya dan Seira dengan selembar selimut.Kedua sersan dan orangtua mereka memasuki ruangan itu.Pak dan Bu Bell menampilkan ekspresi senang,sedih,marah,sekaligus malu.Senang karena bisa bertemu kedua putrinya,sedih karena melihat keadaan mereka,marah karena mereka terjerumus hal-hal ilegal,dan malu karena sekarang melihat putrinya tanpa busana.Mereka cepat-cepat memakai baju,dan diborgol polisi.Melihat orangtua mereka,Freya menundukkan kepalanya,dan Seira hampir menangis.
Mereka berdua dihukum 30 tahun penjara.Penjara itu selnya sangat sempit,hanya 2,5 meter kali 2,5 setengah meter untuk dua orang.Sering terjadi mati listrik."Hhh..mati listrik lagi ya."keluh Seira."Ini sudah keempat kalinya bulan ini."kata Freya."Makanya kalo usaha itu yang bener.Jadi dokter kek,jadi guru kek,ini udah masih muda malah make narkoba,sia-sia kan malah masuk penjara."ejek seorang penjaga sambil memberikan makanan.Sepotong roti tawar dan segelas kecil susu per orang."Eh,tumben ada susu.Anaknya kepala sipir mau nikah apa?"tanya Seira."Kalian belum tahu,ya? Sebagian narapidana disini akan dipindahkan ke lapas lain.Makanya dia lagi seneng.Kalo enggak mah,dikasih makan dua kali sehari udah bagus."jawab si penjaga.Memang benar.Bisa makan dua kali sehari saja sudah bagus.Biasanya hanya sekali."Apa kami akan dipindahkan?"tanya Freya?Si penjaga melihat kanan-kiri,dan berbisik,"Kurasa tidak,karena katanya napi tingkat tinggi akan tetap disini." Cara membedakan napi kelas kakap dan teri cukup mudah.Kalau selnya terisolir dan kakinya diborgol,artinya napi kelas kakap.Si penjaga pergi.
"Kita harus kabur,"bisik Freya pada adiknya,"Aku tidak mau disini." Seira mengangguk pelan.Tempat selnya dulu jauh lebih baik.Setidaknya dia mendapat makanan yang layak.Sekarang,makanannya selalu makanan yang nyaris kadaluarsa.Roti yang kerasnya minta ampun,air yang rasanya persis air mentah,hingga mi yang hampir tidak bisa dikunyah."Tapi bagaimana?"tanya Seira sambil mengunyah-lebih tepatnya mencoba mengunyah-rotinya."Kita suap saja penjaga tadi,"jawab Freya."Suap bagaimana? Aku saja menjual diri untuk hidup.Kau tahu apa yang mereka katakan tentangku? Mereka memberiku julukan 'Si Perak Serba Guna',"kata Seira."Bingo.Kita bisa menyuapnya dengan itu." "Kalau begitu kakak juga harus melakukannya denganku,"kata Seira."Iya,iya.Tidak mungkin aku membiarkanmu melakukannya sendiri,"kata Freya.
Malam itu juga,saat Freya sedang tertidur cukup pulas,Seira menangis terisak-isak sambil menyesali perbuatannya dulu.Isakannya itu terdengar tahanan di sampingnya."Hei,kenapa kamu menangis?"tanyanya."Siapa kamu?"tanya Seira balik."Namaku Alice,"jawabnya.Seira dan Alice bercakap-cakap sejenak,sampai Seira melontarkan pertanyaan,"Kenapa kamu ditahan disini?" Alice terdiam sejenak.Terbersit keraguan di hatinya."Aku dan saudara kembar laki-lakiku,Lance,adalah penyelundup.Berlian,permata,hewan langka,hingga narkoba sekalipun kami selundupkan asalkan kami dibayar.Suatu saat,Lance tertangkap,dan untuk mengurangi hukumannya sendiri dia melaporkanku,"jawabnya."Kalau kamu?"tanya Alice."Yah,kehidupanku hancur lebur.Aku menjadi ketergantungan narkoba dan bahkan jadi pengedar narkoba.Karena itu,aku jadi buron.Aku disiksa pengedar narkoba lain,diselamatkan,masuk penjara,kabur,dan disiksa lagi oleh psikopat absurd.Aku menjadi perempuan bayaran,lalu terpergok mesum dengan kakakku sendiri yang sedang tidur di sini,lalu berakhir di sini,"jawab Seira."Dan yang paling memalukan adalah fakta bahwa orangtua kami yang memergoki kami,"lanjutnya."Apa yang akan kamu lakukan jika bisa keluar dari sini?"tanya Alice."Yang pasti,meminta maaf pada orangtuaku.Bagaimana denganmu sendiri?" "Kurasa aku akan hidup baik-baik seorang diri.Orangtuaku menelantarkanku dan Lance saat kami masih bayi."
"Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang melukai hatimu sendiri?"tanya Alice."Terlalu sering,"jawab Seira."Ada satu kejadian yang mengusikku sampai sekarang,"kata Alice.Ia mengambil napas sejenak."Lance dan aku pernah menyelundupkan dua orang anak berumur 6 tahun.Kami mengikat tangan dan kaki mereka,lalu ia dimasukkan ke dalam kapal,"cerita Alice,"Entahlah apa yang terjadi padanya." "Bukannya membuatmu risau,tapi kemungkinan besar klienmu adalah sindikat perbudakan anak atau penjualan organ." Alice terisak-isak mendengarnya."Di dunia gelap kita,manusia seringkali bernilai lebih rendah dari uang,"kata Seira."Aku tahu.Dengan uang,orang bahkan bisa membeli budak di pasar gelap." "Alice,kurasa ini adalah kali terakhir kita bertemu,"kata Seira."Kamu bercanda? Hukumanku 10 tahun,dan aku yakin hukumanmu lebih berat,"kata Alice."Ya,30 tahun.Tapi aku tidak sudi mendekam di sini selama itu,"ucap Seira."Hukumanmu tiga kali lipat hukumanku.Yah,aku sudah menjalani dua tahun,dan kurasa aku akan tetap di sini.Jika kamu mau kabur-dan aku yakin kamu mau kabur-semoga beruntung." Setelah itu,Alice dan Seira tertidur.
Dua hari kemudian,pemindahan pun dilakukan.Semua penjaga sedang sibuk,jadi penjagaan relatif lebih lemah.Penjaga itu-Pak Dono-mendatangi mereka.Seira dan Freya bangkit.Ini satu-satunya harapan mereka.Pak Dono membuka borgol dan pintu penjara.Seira dan Freya memandang satu sama lain.Mereka belum melakukan apa-apa.Ia membawa mereka ke suatu hutan tidak jauh dari penjara itu.
"Kenapa?"tanya Seira."Aku dibayar untuk ini."jawabnya singkat."Lumayan juga kerjamu."Natz yang mengucapkannya.Ia membius keduanya."Saatnya bersenang senang,"gumamnya.
Freya diikat ke dinding sementara Natz membereskan urusannya dengan Seira."Natz,polisi akan segera melacak mu,"ancam Freya."Tidak bijak mengatakannya,sementara adikmu ini sedang di tanganku,kan?"ancam Natz balik."B******n,"umpat Seira."Kurang ajar!"seru Natz sambil menampar Seira saat mendengarnya."Kalau bukan karena bayaran yang tinggi,aku tidak akan mau menyeret kalian ke sini!"
"Bayaran? Sejak kapan psikopat gila sepertimu peduli dengan uang?!"teriak Seira."Kalian pikir aku-si "psikopat gila" ini-menyiksa kalian hanya untuk senang-senang atau untuk membalas dendam saudariku yang b******k itu? Yah,kuakui setengahnya karena senang-senang.Tapi aku ini pembunuh bayaran,seperti semua kawan-kawanku.Kecuali si Michelle dan si Maya itu sih,"kata Natz."Dan aku dapat bayaran tinggi untuk membunuhmu."
Selama itu pula,Natz mengirim video penyiksaan Seira pada orangtuanya."Pak,tolong temukan dia! Saya tak kuasa melihat dirinya disiksa begitu!"pinta Ibu Seira.Gambaran jeritan Seira lebih dari cukup untuk membuatnya menangis.Melihat tubuhnya yang berdarah-darah,apalagi.Suaminya memeluknya,berusaha memberikan kenyamanan,meskipun pikirannya juga kalut.Salah satu putrinya sedang disiksa di ambang kematian,sementara putrinya yang lain diikat tak berdaya.
12 tahun yang lalu...
Natalie adalah seorang anak broken home.Ayahnya seorang pecandu narkoba.Ibunyalah yang menanggung beban keluarganya."Uang!Sini uangnya!"bentak ayah Natalie."Tapi ini untuk makan...,"kata Ibunya.Ayah Natalie tanpa segan menusuk istrinya.Ia langsung dipenjara.Dan Natalie ada disana.Trauma yang sedemikian hebatnya melanda dirinya.Ia kehilangan simpati pada orang lain.Kejadian itu seolah membangkitkan sisi jahatnya.
Kembali ke masa sekarang
Ia melilit Seira dengan kawat besi tajam yang langsung menembus kulitnya dan mengeluarkan darah.Ia mengalirinya dengan listrik."Nak!"teriak seseorang.Seira mendengarnya."Ibu!"teriak Seira.Setelah sekitar 15 menit,Natz mematikan kameranya.Ia membuka lilitannya.Tubuh Seira penuh luka dan ambruk ke tanah.Ia sudah tidak kuat menopang diri sendiri.Entah apa saja yang telah dilaluinya.Seluruh tubuhnya disiksa tanpa ampun,dari kepala sampai ujung kaki.Tidak ada lagi Seira yang pintar,sopan dan berakhlak baik,tidak pula Seira yang seorang bandar narkoba,yang ada hanya Seira yang menjadi mainan bagi pemiliknya-para lelaki hidung belang dan Natz.Hanya ada Seira yang putus asa."Keputusasaanmu itu wajar,sih.Kurasa aku harus memujimu.Kau orang pertama yang bisa bertahan selama ini.Tapi,seorang Seira pun nampaknya tidak kuat lagi,ya,"kata Natz."Kau harus sadar posisimu sekarang.Kau cuma boneka mainan milikku." "Sekarang,beritahu aku.Lebih tepatnya,beritahu bosku.Di mana tempatmu menyembunyikan narkoba rampasan itu?"
Seira dan Freya tercengang untuk kedua kalinya."Saat kau membunuh Michelle,bawahanmu membawa pergi narkoba di gudang besar dekat situ,kan?"tanya Natz."Aku tidak tahu,"kata Seira lemah."Kalau aku tahu,aku tidak akan menjajakan diriku sendiri di jalanan,"lanjutnya.Natz menggertakan gigi.Ia mengumpat-umpat.Ia tahu,yang dikatakan Seira itu benar,tapi jika ia tidak mendapat jawabannya,bayarannya bisa dikurangi.Ia menendang perut Seira sekali lagi untuk melampiaskan frustasinya,lalu keluar dari ruangan itu sambil berkata,"Anggaplah kau dapat istirahat,Seira Landeve Bell."
"Natalie...kau tahu yang akan kau dapat setelah ini,kan?"tanya Freya.Ia mulai merasakan rasa bersalah.Seharusnya dia tidak menerima tawaran orang itu.Tawaran untuk membayar dirinya jika ia membawa Seira."Maaf,Seira,karena aku kau jadi begini,"batin Freya."Tentu saja.Aku sudah menculik kalian berdua,lalu ada pasal untuk penyiksaan dan HAM atau apalah.Lalu untuk penyuapan..Aku tahu,"jawab Natz."Hukumanmu bisa dikurangi jika kau mengentikan ini sekarang,"kata Freya.Ia menatap adiknya.Seira menangis kencang tak sanggup menahan rasa sakit.Ia ingin mati saja,tapi Natz tidak membiarkannya mati."Bunuh saja aku...,"gumam Seira disela tangisannya.Natz melecutkan cambuknya lagi,kali ini mengenai bagian belakang lehernya."Diam,"desisnya sambil memalingkan pandangannya ke Freya,"Kau ini pandai bersilat lidah." Natz mengambil pisau lalu menebas tangan kiri Freya.Ia melanjutkannya ke tangan kanan,lengan,badan,hingga ia meninggal.Tepat saat itu,terdengar langkah kaki.....
"Angkat tangan!"perintah seorang polisi sambil mengacungkan pistol.Natz menarik Seira ke arahnya."Tembaklah,"balas Natz sambil menjadikan Seira tameng hidup.Seira menggunakan sisa kekuatannya dan berteriak,"Tembak saja!".Tapi si polisi melihat kaki Natz yang tidak terlindung,dan menembaknya.Natz mengambil pisau dan...
"Argghhhh...."teriak Seira saat pisau itu menusuk bagian belakang kepalanya hingga menembus mata kirinya.Sungguh pemandangan yang mengerikan."Selamat tinggal,Seira sayang,"ucap Natz seraya menyabut pisaunya.Tepat saat itu,timah panas menghujam dadanya.Mengakhiri nyawanya.Lebih tepatnya,kelihatannya demikian.
"Nak!"teriak kedua orangtua Seira."Uh..bajuku..surat.."Seira tewas.Orangtuanya menemukan surat dalam kantong bajunya.
"Ayah,Ibu.Kalau kalian membaca surat ini,artinya aku sudah meninggal.Aku minta maaf telah mengecewakam kalian.Sejak aku menggantungkan diriku pada narkoba hidupku tidak pernah tenang.Aku pikir narkoba itu solusi.Kupikir,setiap kali aku pergi ke diskotik,aku merasa bebas.Aku tidak sadar itu hanya menghanyutkan dan menghancurkanku.Memang benar perkataan orang dulu:narkoba merusakmu.Tapi aku tidak bisa berpaling.Tanpa obat itu,aku akan jadi gila.Aku melakukan apapun demi itu,bahkan jika itu berarti membuang harga diriku sendiri.Aku sadar semua ini salah.Tapi semuanya terlambat.Aku tidak akan bisa direhabilitasi.Bahkan bila bisa pun,aku akan selamanya dicap sebagai sampah masyarakat.Ini sama sekali tidak mengurangi dosaku,tapi maafkanlah anakmu ini.
-Anakmu yang durhaka"
Kedua orangtuanya menangis,meratapi jasad putri-putrinya......
"Ini gila,"kata seorang dokter wanita di ruang autopsi."Yang ini kondisinya buruk sekali.Kepala,tubuh,tangan,kaki,semuanya.Mata kirinya bahkan hancur.Siapapun yang melakukannya pasti benar-benar ingin menghancurkannya,bukan sekadar ingin menghabisi,"kata rekannya,kepala dokter RS itu."Lihat darahnya.Benar-benar kejam.Ini bukan sekedar pembunuhan.Yang ini...jelas dimutilasi.Kejam,tapi tidak segila yang satunya lagi." "Cepatlah kita selesaikan.Aku tak tega melihat mereka,terutama yang berambut perak ini."
10 menit kemudian...
"Oke.Kita sudah selesai."kata kepala dokter."Sebentar.Ada sesuatu ketinggalan."kata si dokter wanita."Eh?! Mayatnya hilang?!"
Dan dua siluet yang masing masing membawa sebuah tubuh pun tak terlihat...